Showing posts with label Timor Timur. Show all posts
Showing posts with label Timor Timur. Show all posts

22 October 2014

Penyerangan Heroik ke Gunung Qablaque Timor Timur - (Bagian 2 - Habis)

Malam merambat pelan, batu batu kembali dijatuhkan secara berirama diselingi oleh rentetan tembakan menyilang secara spekulasi dari atas, cuaca gelap diselimuti kabut tebal yang merayap pelan menciptakan udara yang dingin menggigit, pasukan terpekur kelelahan merenungkan apa yang akan terjadi esok hari. Dan diatara keremangan puncak gunung dalam siluet cahaya bulan nampak jelas musuh berjalan hilir mudik secara demonstrative untuk menurunkan moril lawan. Hanya saja pasukan justru menjadi terbiasa bunyi jatuhan batu yang berdentam dentam dan tembakan spekulatif musuh hanya menunjukan dimana posisi mereka dari cahaya yang ditimbulkan dari moncong senjatanya. Secara bergantian mereka berjaga dan tidur menyiapkan diri untuk gerakan esok hari.

Pagi hari pengarahan diberikan Dan Satgas Bumi di Titik Tinjau, pada saat kesempatan Tanya jawab Dan tim Kikis (Danki Yonif 301) mengajukan keberatan pada perintah Dan yonif 121 Satgas Bumi untuk ditempatkan digaris depan pertempuran dengan alasan telah banyak korban, sesungguhnya dalam militer penolakan seperti ini tidak diperkenankan, namun komandan bersikap bijak melihat beratnya pengalaman pertempuran yang mereka alami dan bisa saja menurunkan moril prajurit yang kurang terlatih mentalnya. 

Ilustrasi
 Sehingga komandan tersebut diberikan kesempatan untuk mendiskusikan kembali bersama anggotanya, namun dari hasil diskusi dilaporkan bahwa keputusan yang diambil tetap sama. Kondisi ini menyulitkan Dan yonif 121, tapi sebagai pimpinan harus bijak karena bagaimanapun keberhasilan serangan akan sangat ditentukan oleh kesiapan seluruh tim, jatuhnya moril sebagian pasukan bila dipaksakan akan mempengaruhi moril pasukan yang lain bahkan keselamatan dari pasukan itu sendiri, dan ini tidak boleh dibiarkan.

Kemudian Dan Yonof 121 MK. Memanggil tim Combat, Dan Tim Topan Lettu Inf Suharyono,

“ Har! Kamu menyerang paling depan menggantikan Tim Kikis, kamu serang semua kedudukan boks boks musuh melalui jalan yang telah saya tentukan, saya dan Tim Kotis bergerak dibelakangmu, Tim Kikis bergerak dibelakang Tim Kotis”, yang dijawab Lettu Suharsono “Siap Komandan”.

Sementara Tim Ular diperintahkan merebut Monte Caicassa. Setelah pengarahan semua Dan Tim diperintahkan kembali kedudukan pasukannya, mereka pergi dengan cara mengendap diantara pohon besar menghindari ruang terbuka berbatu.

Sementara sang komandan dengan tenang melangkah diantara rentetan peluru yang ditembakan terarah oleh musuh dari atas. Peluru caliber 7,9 mm dengan jelas menembus batang batang pohon kemudian keluar lagi dengan membawa serabut kayu, sementara tembakan kebawah memantul memercikan api beradu dengan bebatuan dengan kuasa Tuhan tak satupun yang menyentuh kulitnya. Tindakan demonstrative ini merupakan upaya untuk menaikan moral anak buah sekaligus merusak moril musuh walaupun sebenarnya dapat berakibat fatal dan kesalahan yang tidak perlu. Tapi kenyataan dimedan tempur dapat membuat segan lawan maupun kawan seperti halnya ulah Napoleon dalam pertempuran Waterloo yang terkenal.

Namun pertempuran berjalan tidak mudah, gerak maju pasukan dihambat oleh serangan bertubi tubi dari atas diselingi oleh jatuhan batu sebesar anak kerbau. Suara rentetan peluru beradu dengan guruh dan dentuman batu yang terhujam deras memantul mantul diatara tebing dan tonjolan batu karang, mengintai para prajurit lengah yang merayap diantara sisi sisi batu besar sambil menghindari ranjau bambo runcing yang siap menangkap tubuh tubuh yang gontai kelelahan.

Tapi mereka tetap maju merayap, melompat diantara batu, berlindung, membalas tembakan, ketika kelompok satu menembak kelompok lain melompat maju bahu membahu saling melindungi, pasukan yang dipimpin letnan suharsono, Joko Santoso , dan Sujarwo perlahan tapi pasti merayap dan melompat dari batu kebatu untuk merebut boks pertama.

Sementara Tim Siluman melaporkan 2 (dua) anggotanya gugur lagi tapi tetap bertahan pada medan yang dudukinya, untuk memberikan informasi kedudukan musuh dan mengarahkan pasukan dibawah menuju sasaran utama. Sementara Tim Siluman melaporkan 2 (dua) anggotanya gugur lagi tapi tetap bertahan pada medan yang dudukinya, untuk memberikan informasi kedudukan musuh dan mengarahkan pasukan dibawah menuju sasaran utama. Karena gerakan maju sangat lambat Satgas minta bantuan pada Kresna (Pangkoda Hankam Tim Tim) bantuan tembakan udara.

Dua pesawat (OV-10) menderu muncul dari sektor barat minta konfirmasi sasaran tidak seorangpun yang dapat menjawab, pesawat kembali berputar menunggu jawaban, masalah timbul karena ternyata tidak seorangpun mengerti bagaimana mengarahkan pesawat, sebab pada kursus dasar cabang kompi infanteri maupun pada kursus lanjutan perwira infanteri (Suslapa) belum diajarkan bagaimana memimpin dan mengendalikan bantuan tempur udara.

Disamping itu untuk menentukan arah angin dengan menggunakan koordinat 6,8 dan 10 angka dalam rangka bantem udara dibawah tembakan gencar musuh kenyataannya sangat sulit, selain akan memecahkan konsentrasi pengkomandoan dan pengendalian pasukan. Akhirnya pesawat diarahkan dengan tidak menggunakan arah angin dan koordinat peta, akan tetapi secara manual dengan menggunakan panel berbentuk tanda panah serta perkiraan jarak sasaran, sedangkan setiap perubahan ditunjukan dengan merubah rubah arah panel tersebut.

Informasi ini ternyata dapat dimengerti oleh pilot, ketika Dan Satgas mengarahkan;
“Kampret – Musang, enam ratus meter dari ujung panel langsung tembak”.

Pesawat menukik tajam dengan suara yang menggetarkan nyali langsung menembak sasaran dengan tepat kemudian naik melingkar menghindari tebing, meluncur meninggalkan medan kemudian berputar kembali untuk persiapan penembakan berikutnya.

Serangan ini memberikan momentum bagi pasukan dibawah komando Letda Inf Joko Santoso dari Tim Topan dan Letda Inf Sujarwo dari Tim Badai untuk bangkit dari perlindungan melompati batu batu sambil memberikan tembakan pada musuh yang konsentrasinya terpecah, serabutan mereka mundur meninggalkan boks pertahanan nya.

Sementara serangan Armed (Artileri Medan) tetap dilakukan untuk mempertahankan momentum yang sudah tercipta sekalipun dalam kondisi ini efektifitas nya kurang dapat diandalkan, hal itupun nampaknya dimengerti oleh musuh, bila mereka semakin merapat pada pasukan TNI, serangan Artileri tidak akan membahayakan mereka.

Sementara Pilot OV – 10 memanggil Dan Satgas;

“Musang – Kampret”,

“Masuk Kampret”.

“Munisi tinggal sedikit”,

“Baik, manfaatkan, gudang garamnya dilepas kesasaran”, Pilot menjawab;

“Musang – Kampret, kalau gudang garam saya lepas akan menggelinding ketempat anda”, “baik kalau gitu coba diketinggian belakang, akan saya lihat”.

Ternyata benar bom yang dijatuhkan pecahannya berjatuhan kebawah.
Kemudian Pilot memberikan informasi;

”Kampret – Musang, munisi sudah habis, musang mengendap dulu kami segera kembali”. Dijawab oleh Dan Satgas;

“Kami tidak akan mengendap, kalau mengendap kami akan habis”. Akan tetapi yang menjawab adalah Pangkodahan Tim Tim (Kresna) yang memonitor pertempuran;

“Musang – Kresna, silahkan kembali mengisi munisi, bantuan ditunggu”.

Sekali lagi pesawat menderu meninggalkan medan tempur dan kali ini tidak untuk berputar, yang dimanfaatkan oleh pihak musuh kembali melancarkan tembakan dengan membabi buta tidak terarah sehingga tidak terlalu menyulitkan Tim Topan/Badai untuk merebut boks boks pertahanan mereka.
Mendekati ujung teping lereng Daurema, Tim Topan disebelah kiri terhambat serangan gencar musuh, sedangkan tim Badai yang berada dikanan memiliki medan yang lebih baik terus maju, tiba tiba diberondong tembakan dari tiga arah depan sekaligus, kanan, kiri dan depan lurus. Mendapat tembakan gencar seperti ini membuat pasukan sulit untuki berlindung, korban berjatuhan dan gerakan terhambat. Melihat kondisi ini Tim Combat dibawah pimpinan Letda Suharsono merapat kedepan memberikan bantuan dengan meminta Tim Topan bergeser kekanan, kemudian maju mererobos hujan peluru yang ditembakan musuh, aksi ini menyebabkan seorang Hansip tertembak, akan tetapi berhasil melancarkan serangan yang dibangun Letda Joko, sementara tim Topan kembali dapat bergerak dan menguasai Boks musuh.

Setelah Boks dikuasai tim Guntur bergabung dengan tim Topan untuk serangan kesasaran utama dan mendapat perlawanan sengit, Dan Satgas Bumi memerintahkan Dan Tim kalong (Letda Sutan Lubis) membantu tapi tidak bisa karena pesuruh Dan Tim gugur, Dan Tim tidak tega meninggalkan.

“Kalong – Musang yang harum supaya ditinggalkan nanti saya ambil, bantu pasukan depan segera”.

Kenyataan sulit bahkan Tim Kalong minta bantuan Badai.

“Badai – Kalong anggotaku yang harum supaya diambil”, yang dijawab oleh Badai;

“Kalong – Badai , tenang saja tinggalkan yang harum, bantu pasukan didepan anggotaku sudah 5 (lima) yang kena!”.

“Badai – Kalong baik kami maju”, tapi ketika kalong maju keadaan telah dikuasai Topan dan Badai. Karena mendapat bantuan dua OV-10 (Kampret) dari Bacau.

Perlu mendapat apresiasi dari performa yang ditunjukan dua pesawat bantem OV – 10, karena kejelian dan keakuratan nya dalam menghancurkan sasaran berperan besar dalam perebutan boks boks pertahanan musuh. Fretilin mundur berloncatan dari Boks yang satu ke Boks yang lain. Pada Boks yang ditinggalkan ditemukan munisi dan Fretilin yang gugur/luka. Gn.Daurema direbut pada hari ke 2 (dua) hari telah senja. TAMAT


Sumber :
 - Kisah Nyata ( Iwan Goenawan ) Satgas Operasi Seroja 1975-1979
- http://www.kaskus.co.id/show_post/5100194a8227cf1608000002/636/penyerangan-heroik-ke-gunung-qablaque


Demikianlah Timor Timur Mudah - mudah bermanfaat buat sahabat sekalian.

Jika Anda menyukai Artikel di Website ini, Silahkan klik disini untuk berlangganan GRATIS via email, dengan begitu Anda akan mendapat kiriman artikel setiap ada artikel yang terbit di Inspirasi Tanpa Henti

Penyerangan Heroik ke Gunung Qablaque Timor Timur - (Bagian 1)

Gunung Qablaque merupakan medan yang dimitoskan sebagai medan terberat yang selalu dijauhi oleh para pilot Helikopter dan dijaga oleh setidaknya satu batalyon dengan senjata SMR serta dihuni oleh kurang lebih 7000 rakyat. Tapi sebagian Rakyat telah bosan berada dibawah penjajahan Portugis tanpa ada perubahan kesejahteraan yang berarti, bahkan sebagian besar rakyatnya nyaris hidup dibawah garis kemiskinan. Oleh karenanya keberadaan pasukan mendapat dukungan dari sebagian masyarakat yang pro yang telah jenuh terus menerus berperang. Dan salah satu keberhasilan penyerangan ini adalah berkat adanya dukungan itu.

Berdasarkan analisa strategic dan masukan yang diberikan para ketua adat dan pemuka masyarakat Timtim (Liurai dan Katuas) yang Pro Republik bahwa Gn.Qablaque hanya dapat dikuasai bila puncak tertinggi (Gn.Barelaca) dan Gn. Daurema dikuasai, karena terdapat suatu titik strategic diwilayah itu yang dapat mengarahkan/mengendalikan jalannya pertempuran. Untuk itu perlu dibentuk Tim siluman yang bertugas menguasai daerah tersebut secara senyap. Artinya suatu pasukan yang mampu menyelinap ke suatu wilayah secara diam diam untuk kemudian memberikan informasi dan mengarahkan pasukan pada sasaran /target serangan. Dan pasukan itu harus dibentuk dari orang Timtim sendiri.

Ilustrasi
Gn. Qablaque ini sangat sulit ditembus tanpa bantuan orang pribumi karena merekalah yang paling mengetahui medan Qablaque. Mereka dibentuk dari Hansip, Liurai dan Katuas yang terpilih. Pembentukan pasukan semacam ini semula diduga akan sangat sulit karena mereka mengemban tugas yang berat dengan kemungkinan risiko mati dalam pertempuran besar sekali. Akan tetapi respon yang diperoleh luar biasa dua Pleton Hansip datang dari Ainaro mereka dengan suka rela mengajukan diri untuk bergabung dalam tim bahkan Danki Hansip Batista De Deus yang menyatakan sakit ketika tau bawa serangan itu akan dipimpin langsung oleh Danyonif 121 Macan Kumbang malamnya menghadap komandan agar diijinkan memimpin Tim Siluman.

Dalam rangka pengintaian Dan Yonif 121 Macan Kumbang berserta angg Kotis dikawal Tim Combat berangkat ke Moncong Babi. Ditengah jalan antara Nanumuque dan Aituto (rumah putih) pasukan diserang , tembak menembak terjadi di kebun kopi musuh mundur menyusun pertahanan keseberang jauh sungai Belulic. Pasukan tidak berusaha mengejar tapi melanjutkan gerakan menuju Moncong Babi, disana telah menunggu Capa Naingolan dari Aituto dan Capa Siregar dari Maubise untuk pengamanan sekaligus Tim Log.

Serangan akan dilakukan dari dua arah yaitu Caicassa oleh Tim Ular, dan Gn. Daurema sebagai serangan pokok dipimpin Dan Satgas Bumi, serangan akan didahului dengan penyusupan oleh Tim Siluman yang berangkat H – 1 Dipimpin oleh Danki Hansip Batista De Deus. Tim siluman berangkat pukul 05.00 akan tetapi baru pukul 05.30 sang komandan Tim sudah melapor.

“Musam , Batista, saya laporkan bahwa anggota tim telah mate dua dan satu luka berat. Saya minta Musam berserta pasukan segera membantu, kalau tidak kami mate semua!” dijawab Dan Satgas,

“Ok! Saya segera datang membantu”. Yang dimaksud dengan Musam adalah Musang nama sandi pasukan yang dipimpin Dan Yonif 121. 

Dan RTP 8/SWJ segera melakukan pengecekan terakhir, Dan Satgas Bumi memberikan perintah operasi secara lengkap kepada pada komandan Timpur, Banpur dan Bantem yang dilanjutkan dengan pertanyaan dari pada komandan untuk kejelasan. Pasukan segera bergerak menuju sasarandidahului oleh tim Ular, dilanjutkan tim Topan, Kotis dan Kikis berada disebelah kanan. Tetapi setelah istirahat formasi dirubah, tim Ular bergerak di kiri dan lainnya di sebelah kanan. Sesampainya di lereng Tim yang berada ditengah mendapat serangan diri Musuh, serangan gencar diarahkan pada pasukan dari persembunyaian yang menyatu dengan pemukiman tapi dibalas oleh pasukan dan berusaha terus maju.

Pemukiman penduduk yang berada disekitar itu sebenarnya merupakan depot logistic musuh mereka menyimpan makanan dan munisi sekaligus sebagai gugus pertahanan awal mereka. Hal ini memaksa pasukan untuk tidak mengambil risiko membiarkan system logistic serta persembunyian mereka mengancam keselamatan pasukan saat ini maupun nanti nya dengan membakar gubuk gubuk tersebut, dan terbukti setiap gubuk yang dibakar mengeluarkan ledakan dari munisi yang tersimpan, dan kelak setelah pertemppuaran berakhir akan terlihat bahwa setiap gubuk tersebut ternyata dilengkapi dengan “Ruba-ruba” yaitu perlindungan dari serangan udara dan meriam.

Pasukan berhasil maju melampai dua bukit, pada bukit ketiga menuju kaki Gn. Qablaque, ajudan Dan Satgas sudah tidak dapat berjalan karena mengalami kram, kedua kakinya diikat oleh saputangan dan tali pada ketinggian 1873 m dari permukaan laut udara sudah sangat dingin. Dalam keadaan seperti itu Gino sang ajudan terpaksa ditinggalkan karena pasukan harus tetap maju, sampai pada pertahanan terahir musuh yang dibakar pasukan kembali melingkar untuk menjemput sang ajudan yang sedang termangu dibalik batu besar, membayangkan bila musuh tiba tiba datang dan menyergapnya seorang diri. Hatinya tiba tiba kecut, bukan pertempuran yang dia takuti akan tetapi kematian sia sia tanpa perlawanan yang disesali. Tapi hatinya bertekad kalau aku harus mati, maka sebanyak peluru yang ada pada magasin senjatanya itulah jumlah korban dipihak musuh. Ia tetap waspada sampai suara lemah bunyi kerikil terinjak dibelakangnya.
Ia berteriak gembira;

” Oh, Komandan!” Dengan tersenyum sang komandan menenangkan

“No, masa saya sampai hati meninggalkan kamu, nanti istri dan anak anak mu akan menuntut saya bila kamu hilang”.

Kemudian bersama sang ajudan yang tertatih tatih pasukan melanjutkan gerakan menyeberangi sungai Belulic karena tim Topan telah berhasil menguasi tepi jauh. Dan dari tempatnyang agak tinggi Sang Komandan memanggil Dan Tim Siluman sambil memberitanda dengan melambaikan peta.

“Batista-Musang, apakah Batista sudah melihat Musang”

“Musam-Batista, saya sudah melihat musam dan kawan kawan, obrigado barak” (terimakasih banyak).

Akan tetapi lambaian Komandan tidak saja dapat dilihat oleh Tim Siluman juga oleh musuh, keruan rentetan peluru menghambur kearah kedudukan pasukan, lalu Komandan memerintahkan pada tim siluman agar segera mengevakuasi yang gugur dan terluka kebawah setelah boks pertahanan musuh didepan dikuasai. Boks pertahanan terakhir berhasil dikuasai pasukan tetepi dengan pengorbanan kedua kaki seorang Danru dari Tim Topan tertembak. Pasukan berhasil mencapai lereng Gn.Daurema, anehnya tak seorangpun musuh yang sebelumnya begitu gencar menyerang menampakan batang didungnya, tidak ada suara mereka apa lagi bunyi tembakan, keadaan sunyi tapi mencekam tapi pasukan tetap siaga. 

Kawasan ini merupakan daerah berbatu dan banyak ditumbuhi pohon berukuran sebesar tubuh manusia yang dikelilingi oleh tumbuhan perdu. Tebingnya berdinding curam dan memiliki celah celah yang dapat dilalui manusia ketika keadaan normal. Celah inilah satu satu nya jalan masuk kepuncak yang teraman dibandingkan memanjat dinding curam yang terbuka, yang dengan sangat cerdik digunakan sebagai boks pertahanan musuh, sementara setiap celah batu ditanami ranjau bamboo bahkan ditanah sebelum mencapai dinding tebing.

Tiba tiba terdengar suara gemuruh, bumi bergetar seakan gunung akan meledak, suara itu bergerak sangat cepat dan itu datangnya dari arah ketinggian. Pasukan serentak berlindung dengan merapat kedinding dan sebagian menjauh berlindung dibalik pohon pohon. Dalam hitungan detik batu batu besar dan kecil berlomba meluncur deras, memantul mantul, menabrak, menggilas apa saja yang dilalui nya diiringi guruh pecahkan telinga, seakan hantu pencabut nyawa penunggu gunung Deurema datang menyapa dengan peringatan. Karena bagaimanapun bila batu itu dijatuhkan ketika pasukan telah berada dipertengahan tebing akan jauh lebih sulit untuk dihindari. Ketika badai batuan berhenti sementara, pasukan yang cerai berai berupaya mencari perlindungan yang lebih baik dan melakukan konsolidasi.

Komandan memutuskan untuk menunda serangan menghindari jatuh koorban yang besar bila dipaksakan sambil melaporkan ke Macan (RTB 8/SWJ). Hari telah menjelang malam Para komandan Tim dipanggil untuk diberikan perintah, pasukan secara otomatis bergantian untuk makan malam, yang tepat adalah makan siang yang dilaksanakan malam hari, sementara jenasah dan yang terluka dievakuasi ke Aituto. Sambil menyusun pertahanan sementara dan menyiapkan kubu kubu untuk yang terluka atau gugur agar memudahkan tim evakuasi yang akan membawa mereka turun ke Aituto dan Maubise yang kemudian akan dibawa ke Dili dengan pesawat Heli. Bersambung...


Demikianlah Timor Timur Mudah - mudah bermanfaat buat sahabat sekalian.

Jika Anda menyukai Artikel di Website ini, Silahkan klik disini untuk berlangganan GRATIS via email, dengan begitu Anda akan mendapat kiriman artikel setiap ada artikel yang terbit di Inspirasi Tanpa Henti

16 October 2014

Untold Stories - Operasi Flamboyan Timor Timur (Bagian 4 - Habis)

Berusaha Mencapai Perbatasan
Setelah terlibat dengan kontak senjata sengit dan setelah mempelajari pergerakan musuh yang mengejar beberapa saat, mereka kemudian bergerak mencari jalan pulang ke Atambua di sebelah barat. Namun perjalan pulang tidak semudah yang dibayangkan, sebab dibeberapa tempat mereka masih harus terlibat kontak senjata dengan musuh yang terus membayangi pelolosan pasukan. Ternyata musuh sangat menguasai medan dan menyebar dimana-mana. Sehingga perjalanan yang semula direncanakan selama 10 hari menjadi 15 hari. 

Ilustrasi
Memasuki hari kelima logistik sudah habis. Makanan tidak ada, air minum juga susah. Masih beruntung terdapat banyak pohon kelapa yang bisa diminum dan dimakan air dan buahnya. Ketika memasuki sebuah kampung yang ditinggal mengungsi oleh penduduknya, mereka menemukan seekor ayam betina yang sedang mengerami anaknya. Tanpa basa basi lagi, ayam tersebut langsung di sembelih dan dimasak tanpa bumbu. Mereka pun mengeroyok daging ayam betina itu.

Keletihan yang amat sangat sudah menghinggapi semua anggota pasukan tak terkecuali Kapten Mannix. Lapar dan haus luar biasa. Menyadari hal tersebut, pada satu titi-titik yang aman, Mannix mempersilahkan anak buahnya beristirahat beberapa menit. Mereka pun merebahkan badan dan langsung tertidur nyenyak. Setelah beristirahat, mereka langsung bergerak agar tidak sempat terdeteksi dan terkejar oleh musuh. Mannix sangat melarang anggota nya membuka tembakan, kecuali bila sudah sangat terdesak. Sebab amunisi mereka sudah sangat terbatas, masing-masing hanya tinggal sekitara 20 butir saja dari 250 persediaan semula.

Karena dibeberapa titik pelolosan sudah di blokade oleh Fretilin dan Tropaz, Mannix berdiskusi dengan Rully Lopez yang notabene juga mantan Tropaz. Mannix menjelaskan bahwa jika mereka terus berjalan lurus ke barat mereka akan menghadapi banyak pencegatan musuh.

"Kalau kita menuju selatan hingga mencapai pantai dan menyusuri pantai menuju barat (perbatasan) apa ada tempat yang bisa menjadi perlindungan?"Tanya Mannix keLopez.

"Ya, ada pak. Saya tau tempatnya" jawab Rully Lopez. Akhirnya Mannix memutuskan bahwa jalur pantai lah yang akan mereka tempuh. Mereka pun kemudian bergerak dengan hati-hati sambil tetap dengan kewaspadaan tinggi.

Setelah menempuh perjalanan hampir 15 hari, mereka kemudian memasuki sebuah kampung diperbatasan Timles dan NTT. Semua penduduk kampung tersebut ketakutan dan berusaha kabur, mereka mengira Fretilin menyerang dan masuk kampung mereka. Untunglah melalui penterjemah yang dibawa dijelaskan bahwa mereka bukan Fretilin melainkan tentara Indonesia. Akhirnya penduduk merasa tenang dan kembali ke rumah masing-masing. Bahkan kemudian penduduk kampung memberi mereka makan. Beberapa ekor ayam dipotong, dimasak dan dibakar tanpa bumbu, hanya garam. 

Namun semua mereka makan dengan lahapnya, terasa sangat luar biasa enaknya. Semua anggota pasukan sudah terlihat amat kurus, tak terkecuali Kapten Mannix. Pipinya sudah cekung kedalam karena selama hampir 14 hari sama sekali tidak makan yang wajar. Dua hari setelah mereka berada di basis Kotabot, tiba-tiba beberapa penduduk berlarian sambil berteriak mengatakan ada seseorang membawa senjata memasuki kampung nya, mereka mengira itu pasti Fretilin. Ternyata orang tersebut adalah Serda Sarwono yang sempat dinyatakan missing. Pembantu penembak roket ini hampir putus jari tangannya diterabas peluru musuh. Sarwono mengiris sendiri jari tangannya hingga putus dan mengobatinya sendiri secara ala kadarnya. Dia pun berhasil menyelamatkan diri dan mencapai perbatasan dengan kisah yang tidak kalah dramatisnya.

Ditegah hujan tembakan dan kejaran gabungan Fretilin dan Tropaz, Sarwono bersembunyi dan menyelinap menyusuri hutan dan pesisir pantai yang sebelumnya dilalui Mannix dan pasukannya. Ketika Mannix menanyakan bagaimana ia menyelamatkan diri, "Saya ingat petunjuk bapak, jika tersesat ikuti saja kearah mana matahari terbenam" jelasnya. Kemudian, ia menemukan jejak-jejak rekannya dan terus menelusurinya.

Sempat beberapa kali Sarwono hampir tertangkap Fretilin yang juga mengejar Tim Umi. Suatu kali, ketika Sarwono sedang memasak, dan sudah hampir matang siap disantap, tiba-tiba Fretilin datang. Dengan sigap Sarwono bersembunyi. Tentara Tropaz dan Fretilin tersebut kelihatan sibuk memeriksa kawasan itu mencari keberadaannya. Lama sekali Sarwono diam membisu di belukar dan berdiam seperti patung. Dalam keadaan menegangkan itu dia sudah menggenggam sebuah granat, siap-siap diledakkan bila mana dia sampai tertangkap.

Ketika Tim Umi meninggalkan kampung tersebut menuju Kotabot, Sarwono segera dievakuasi ke rumah sakit untuk mencegah inveksi pada luka buntung jarinya.


Tim Umi Merebut Batugade

Tidak lama kemudian, Tim Umi yanh sudah konsolidasi diperintahkan berangkat dari Kotabot berkumpul di Motaain, sebuah desa kecil wilayah NTT perbatasan berjarak 25km dari Atapupu dan hanya 3km dari Batugade. Batugade sebelumnya dikuasai oleh UDT namun setelah pertempuran sengit, UDT terusir ke perbatasan dan Batugade diduduki Fretilin.

Padahal Batugade sangat penting karena merupakan pintu gerbang keluar masuk wilayah Timor Portugis. Fretilin juga maklum akan itu, sehingga mereka mengerahkan sebuah Frigat ex AL Portugal yang dikuasai bergerak dari Dilli menuju perairan dekat garis perbatasan. Kehadiran kapal jenis frigat yang diyakini bersenjata lengkap ini memberikan kekhawatiran kepada pihak UDT dan penduduk NTT di perbatasan.

Dalam situasi dan eskalasi yg semakin meningkat, Kol.Jonas memerintahkan Kapten Mannix untuk segere membawa tim nya merebut Batugade. Padahal Tim Umi baru saja konsolidasi dan belum lengkap (Dalam gerakan kemarin,Tim Umi menderita kerugian 1 gugur, 7 luka2, 2 stress dan terpaksa dipulangkan). Namun dengan kondisi personil terbatas hanya dengan 1 Prayudha, Mannix membentuk pasukan penyerbu. Pasukan ini merupakan gabungan yg terdiri dari : 1 Prayudha Tim Umi Sandiyudha, 1 Peleton Parako di bp. Lettu Inf.Sugiarto dibantu sukarelawan Apodeti, UDT, KOTA, Trabalista, dan beberapa ex Tropaz.

Mannix yg sudah memetakan kondisi Di Batugade memimpin pasukan dalam kelompok-kelompok kecil membentuk basis gerilya, bergerak menyusuri hutan dan perbukitan dengan sasaran Batugade. Ketika hari H ditentukan, secara sporadis serangan dilancarkan. Pertempuran sengit terjadi. Dari arah laut, Tim Parako pimpinan Sugiarto bergerak melambung menyusup rusuk benteng Tropaz di tepi pantai.

Namun tak disangka, ditengah-tengah pertempuran memperebutkan benteng Tropaz, pasukan Mannix dihujani tembakan meriam dari arah laut. Rupanya Frigat yg sudah dikuasai Fretilin beraksi. Segera Mannix menghubungi pasukan Marinir TNI-AL yang juga sudah standby meminta bantuan. Anggota Marinir segera meggelar artileri dan panser nya di tepi pantai. Jika dalam pendaratan pasukan Sekutu di Sicilia dalam PD II terjadi duel tembakan antara kapal-kapal perang sekutu dan tank-tank Jerman di pantai, mungkin ini duplikatnya namun dalam skala lebih kecil. Frigat Fretilin di tembaki oleh tank ringan,panser,meriam dan bahkan mortir Marinir dari pantai. Mendapat hujan tembakan, Frigat ini pun kemudian mundur kembali ke Dilli.

Menjelang senja, benteng Tropaz di Batugade sepenuhnya dikuasai oleh pasukan gabungan Mannix. Namun Fretilin masih juga membuat serangan dadakan malam harinya. Mortir dan bazooka menghujani benteng. Kini keadaan terbalik, pasukan Mannix yg bertahan dan Fretilin yg menyerang. Serangan dapat dipatahkan, dan Fretilin mundur melarikan diri.

Kemudian para sukarelawan pimpinan Mannix bergerak menuju kota dan merebutnya. Batugade merupakan kota pertama yg jatuh ketangan 'sukarelawan' dalam Operasi Flamboyan. TAMAT

Referensi :
1. http://www.kaskus.co.id/show_post/543bdcc6de2cf2a3378b456e/1748/-
2. http://www.kaskus.co.id/show_post/543bde6396bde6ce358b456a/1749/-
3. http://www.kaskus.co.id/show_post/543bde9531e2e68d2d8b4571/1750/-
4. http://www.kaskus.co.id/show_post/543bdf30108b46f16c8b4568/1751/-


Demikianlah Timor Timur Mudah - mudah bermanfaat buat sahabat sekalian.

Jika Anda menyukai Artikel di Website ini, Silahkan klik disini untuk berlangganan GRATIS via email, dengan begitu Anda akan mendapat kiriman artikel setiap ada artikel yang terbit di Inspirasi Tanpa Henti

Untold Stories - Operasi Flamboyan Timor Timur (Bagian 3)

Berjuang Mencapai Perbatasan
Hari sudah pagi, matahari sudah menembus temaramnya rimba dan bukit bukau, namun pergerakan escape Kapten Mannix dan tim nya menjadi agak terhambat, sementara dibelakang musuh masih terus memburu. Tim Umi A gerakannya agak melamban karena harus membopong 4 rekan mereka yang terluka. Dalam teori Spesial Force pada penugasan yang dimaklumi oleh semua personil komando, jika anggota terluka menjadi beban dan bisa membahayakan anggota lainnya 'tembakan wajib' diberi saja supaya tidak lagi jadi beban.

Ilustrasi
Bahkan para senior Mannix yang dihubungi via radio menyarankan agar yang luka ditinggal saja agar tidak menghambat pelolosan. Tapi Mannix tidak tega melakukannya karena dia bertekad dan yakin bisa menyelamatkan ke empat anak buahnya itu. Mannix dan anggota nya bergantian membopong rekan mereka yang terluka, sambil masing-masing tetap dengan senjata ditangan, sementara ajudan nya membawa ransel-ransel. Ditengah gempuran pasukan musuh yang terus mengejar, sisa tim yang tidak cedera melakukan perlawanan dan melindung punggung rekan mereka di depan. Ketika tiba di suatu tempat yang cukup jauh dari kejaran musuh, keemapt anggota yang terluka tersebut menyadari dengan sadar bahwa mereka hanyalah beban bagi pelolosan tim dan memperlambat gerakan pasukan. Mereka pun meminta kepada Mannix agar ditinggal saja. 

Anggota yang dipapah Mannix, seorang Letnan Dua meminta supaya dia ditinggal saja, senjatanya dikokangkan, dibekali granat dimana jika dia tertangkap akan berjibaku meledakkan granat tersebut ditengah-tengah musuh. "Ijin ndan, mohon saya ditinggal saja,saya hanya menghalangi gerakan ndan" kata anggotanya dengan suara lemas. Letda tersebut terluka dirusuk kiri oleh tembakan pengejaran musuh. Namun Mannix meyakinkan, "Tidak! Kamu bisa saya selamatkan. Tetap sadar, dan kuatkan dirimu. Semoga kita berhasil tiba di perbatasan!"

Mereka pun terus bergerak menuju arah barat.Hari sudah semakin meninggi, perut juga keroncongan, rasa lapar dan haus sangat mulai terasa. Tiba disuatu tempat yang relatif aman dari jangkauan para pengejar, disebuah lembah dimana terdapat mata air yang kelihatannya sangat bening, mereka pun beristirahat. Setelah minum sejenak, anak buah Mannix mulai memasak. Sementara itu, Mannix membuka hubungan radio, berkomunikasi dengan markas aju di Atambua, menghubungi pimpinan Ops Flamboyan Kolonel Jonas meminta bantuan evakuasi helikopter. 

Tidak lama heli penjemput pun datang, namun terbang tinggi karena khawatir ditembaki musuh dari bawah. Walaupun Kapten Mannix dan anak buahnya sudah membuat segi lima asap, awak heli tetap tidak bisa menemukan lokasi mereka karena terbang terlalu tinggi. Akhirnya heli evakuasi memutuskan kembali ke Atambua tanpa hasil. Mannix dan anak buahnya tersenyum kecut.

Mannix pantang menyerah. Dihubunginya lagi Kolonel Jonas meminta dikirimi ulang heli untuk evakuasi keempat anggotanya yang terluka, dan permintaan ini pun dengan cepat terpenuhi. Kini yang mengudara sebuah heli sipil dengan pilot Bambang Irawan, seorang pilot Pelita Air milik Pertamina yang disewa. Dalam hal ini, Major Patricia yang bertugas sebagai Kasiops Flamboyan ikut serta. Namun kendati sudah terbang rendah, mereka tidak juga menepukan titik asap yang dibuat Kapten Mannix dan anak buahnya. 

Akhirnya, Mannix pun terpaksa menembakkan pistol dengan tebakan isyarat berwarna hijau. Melalui radio Mannix bertanya apakah mereka sudah meliat isyarat yang dibuatnya. "Ya kami sudah lihat, sudah lihat!" Kata Pilot dan Major Patricia. Namun dilain pihak, tembakan isyarat yang dilepaskan oleh Mannix jadi bumerang, menunjukkan lokasi tempat DZ dan pasukannya oleh musuh. Tropaz pun berusaha mengejar mendekati lokasi DZ.

Evakuasi Yang Menegangkan
Kapten Mannix terus berkomunikasi lewat radio dengan pilot Bambang Irawan. Mannix menuntun supaya heli diterbangkan kearah selatan, dari arah Laut Timor yang bersebelahan dengan Australia agar lebih aman. Namun pilot sempat memutar dari arah timur, padahal musuh berkeliaran disana. Tak ayal heli diberondong tembakan dari bawah oleh berbagai jenis senjata campuran. Beruntung saja heli cepat menghindar tanpa ada yang terluka. Heli evakuasi akhirnya dengan susah payah meski diberondong musuh berhasil menemukan Tim Uminya Kapten Mannix. Lantas langsung dijatuhkan beberapa jerigen air minum, sebab mereka mengira pasukan sudah kehausan dan tidak menemukan air bersih. 

Ditengah kejaran Tropaz yang semakin mendekati LZ, ke empat anggota yang terluka digotong masuk heli yang penumpangnya hanya 3 orang, Pilot Bambang Irawan. Major Patricia dan seorang bintara Kopassandha. Ada kesulitan, sebab seat-nya hanya ada tiga sedangkan tambahan penumpang 4 orang terluka. Namun terpaksa ke empatnya di bawah masuk, seorang lagi diletakkan dibagasi heli. Sungguh sebuah penyelamatan dramatis dan spektakuler. Kemudian Tropaz datang menyergap, sisa pasukan meladeninya sambil melindungi proses evakuasi. Kembali kontak seru senjata seru terjadi.

Saat musuh menghujani mereka dengan tembakan, Mannix meletakkan ransel dan senjatanya dibawah pohon untuk bisa membopong anggotanya yang terluka naik heli, setelah itu kembali untuk mengambilnya, ternyata ransel dan senjatanya sudah tidak ditempat. Rupanya, anggota pasukan lain sudah menbawanya naik ke atas bukit untuk bertahan dari gempuran Tropaz dan Fretilin. Ditengah hujan tembakan, Mannix berhasil mencapai bukit dimana anggota pasukannya bertahan. Karena posisi mereka strategis diatas bukit, musuh tidak berani mendekat, hanya meladeni tembakan-tembakan dari jauh.

Setelah berhasil mengevakuasi anggotanya dan bisa selamat naik keatas bukit, Mannix menarik nafas lega. Dia bersyukur, apalagi setelah melihat heli sudah mengudara menuju Atambua. Dalam hati, dia merasa salut kepada sang pilot Bambang Irawan, yang meski hanya seorang sipil tapi nyalinya tidak kalah dari pilot tentara. Dalam hati Mannix berharap pilot tersebut mendapatkan penghargaan. Bersambung...


Demikianlah Timor Timur Mudah - mudah bermanfaat buat sahabat sekalian.

Jika Anda menyukai Artikel di Website ini, Silahkan klik disini untuk berlangganan GRATIS via email, dengan begitu Anda akan mendapat kiriman artikel setiap ada artikel yang terbit di Inspirasi Tanpa Henti

Untold Stories - Operasi Flamboyan Timor Timur (Bagian 2)

The Legend Blue Jeans Soldiers
Judul diatas merupakan identitas dari Satuan Tugas Khusus yang dibentuk dalam Operasi Flamboyan. Satgas yang beranggotakan 100an personel Baret Merah ini dipimpin oleh Mayor Brandon, dibagi dan dikembangkan menjadi 3 tim dengan nama sandi wanita yaitu Tim Susi, Tim Umi, dan Tim Tuti. Tim Susi dipimpin langsung oleh Komandan Satgas Mayor Brandon dengan Wadan Kapten Jeany. Tim Tuti dipimpin Mayor Patrice dengan Wadan Kapten Prince, dan Tim Umi dipimpin oleh Mayor Leo dengan Wadan Kapten Mannix. Ketiga Komandan adalah lulusan AMN 1965 sedangkan para Wadannya lulusan AMN 1968. Pemilihan anggota tim dilakukan secara cermat dan seleksi ketat. Mereka umumnya direkrut dari Satuan Sandiyudha Grup 4 yang kala itu dipimpin Kolonel Inf.Edi Sudrajat, pengecualian bagi Kapten Mannix yang merupakan BKO dari Satuan Grup 2 Parako/Kopassandha Magelang. 

Ilustrasi

Operasi Flamboyan dipimpin oleh Kolonel Jonas dan wakilnya Letkol Sergio serta asisten operasi Mayor Patricia. Tim Susi,Umi dan Tuti sebagai pelaku limited combat intellingence disusupkan dengan tidak berstatus personel militer, tetapi sukarelawan dengan identitas kaos oblong dan blue jeans. Operasi intelijen tempur terbatas ini sangat penting untuk mengetahui kondisi dan situasi lapangan dalam rangka menetukan gerakan pasukan yang lebih besar mana diperlukan. Operasi ini juga mendapat dukungan dari sukarelawan lokal yang berkeinginan untuk berintegrasi kedalam NKRI.

Pusat komando berada di Motaain dan ketiga tim disebar menyusup ke wilayah Timor Portugis dengan berbagai samaran profesi, dari pedagang kuda, pekerja listrik, pelajar, mahasiswa dan sebagainya. Danjen Kopassandha ketika itu Mayjen TNI Yogie S Memed selalu memberi nama Nanggala dalam setiap satuan tugas (Tim RPKAD yang diseludupkan dari KS Whiskey di dekat Jayapura dalam Trikora di tahun 1962 dinamakan Nanggala 1) dalam setiap penugasan operasi intelijen tempur yang dilakukan Sandiyudha. Tim Susi Kopassandha Grup 4 diberi nama Nanggala 2, Tim Tuti Nanggala 3, dan Tim Umi Nanggala 4. 

Akibat kurangnya personel, maka Tim Tuti dan Umi masing-masing terdiri dari dua Prayudha Kopassandha dan dua Peleton Parako. Saat Timor Portugis dalam keadaan kacau balau dan terjadi eksodus besar-besaran, pemerintah Portugis sendiri meminta Pemerintah Indonesia mengungsikan warga asing dan Portugis dari Dilli. Pihak Indonesia kemudian merespon dengan mengirimkan KRI Mongisidi dan Satgas dibawah pimpinan Kolonel Laut Subiyakto. Namun saat upaya pengungsian warga asing dari Dilli hendak dilakukan, tiba-tiba Gubernur Lemos Peres mengeluarkan perintah yang meminta KRI Mongisidi segera meninggalkan Dilii.

Tindakan Lemos Peres tersebut sangat disayangkan oleh Indonesia dan mendapat protes keras dari pihak AS dan Australia. Saat itu masih banyak warga asing yang ketinggalan, bahkan staf Konsulat Indonesia di Dilli juga tidak sempat naik kapal sehingga terpaksa melalui perjalanan darat dengan kawalan beberapa personil Marinir AL melalui jalur darat, dalam perjalanan yang menegangkan selama lima hari sebelum tiba di perbatasan.

Tim Susi dan komandannya Mayor Brandon disusupkan lebih awal. Sementara Tim Umi pimpinan Mayor Leo dan wakilnya Kapten Mannix menyusul kemudian. Semua direncanakan akan lebih dulu menyusup melalui Kefamenanu untuk menguasai Ambeno, sebuah wilayah Timor Portugis yang terpisah didekat wilayah Timor Barat NTB, namun rencana ini dibatalkan. Tim Umi kemudian diperintahkan melanjutkan perjalanan ke Motaain. Di Motaain ada beberapa eks Tropaz antara lain Rully Lopez dan dua penterjemah Alex dan Fong bergabung dengan Tim Umi. Tim Umi langsung dialihkan untuk menyusup jauh kedalam pedalaman di selatan Viquque.

Untuk menuju pegunungan diselatan Viqueque tersebut mereka harus memutar lewat laut di Motaain menuju Viqueque, dengan mengitari Pulau Timor Barat (NTB) dari Laut Sawu menuju Laut Timor. Merekapun berlayar dengan kapal TNI-AL dan setelah sejam lebih berlayar, tiba-tiba muncul sebuah heli Bolkow yanh disewa dari Pelita Air Services terbang rendah mendekat. Perwira yang duduk di samping pilot heli memberikan isyarat tangan, mengacungkan tiga jari lalu menempelkan ketiga jari dipundak dan menunjuk kepantai. Kini pahamlah Mannix bahwa isyarat tersebut ditujukan kepadanya dam diharuskan merapat ke pantai. Mannix dengan mengendarai sebuah speedboat meluncur ke pantai, dan disana ia mendapat info bahwa penyusupan ke Viqueque dibatalkan dan mereka diarahkan kembali ke Atambua, untuk selanjutnya dialihkan ke perbatasan sektor selatan di Kotabot.

Berhubung eskalasi yang semakin meningkat dan keterbatasan anggota, Tim Umi dibagi masing-masing 50 personil. Komandan Mayor Leo menyusup ke Tilomar sedangkan Tim Umi sisanya dibawah pimpinan Kapten Mannix menyusup lebih jauh lagi sekitar 60km ke Suai, kota diwilayah Timor Portugis. Inilah penetrasi terjauh dalam operasi Flamboyan. Ke 50 personil Tim Umi Kapten Mannix terdiri dari 40 personil Kopassandha, 8 eks Tropaz dan 2 penterjemah termasuk Rully Lopez. Dalam perjalanan menuju Suai, tim ini sudah mendapat banyak hambatan. Selain mereka harus menghindari pertemuan dengan penduduk, juga bedannya terasa sangat berat, jauh dari gambaran semual yang diberikan para eks Tropaz dalam Tim Umi Mannix.
Kisah penyusupan Tim kecil ini ke Suai tidak ubahnya seperti adegan film-film perang Hollywood, seru, menegangkan dan spektakuler.

Hit Run & Escape

Saat menjelang tengah malam ketika sudah mendekati Suai mereka tiba disuatu titik pencar yang nantinya saat pelolosan kembali akan menjadi Titik Kumpul 1. Ditempat ini, Mannix membagi dua pasukannya karena adanya dua sasaran yang akan diserang, yakini sebuah Markas Polisi Militer dan Markas Tropaz. Sebelum berpencar, Mannix mewanti-wanti bahwa tidak boleh ada tembakan sebelum dia memberi isyarat, dan jam D adalah 24.00 tepat tengah malam. Sebagian pasukan dibawah pimpinan Lettu Pauline bergerak menuju sasaran markas CPM melewati medan yang relatif landai dan pada titik tertentu ada jalanan setapak. Sedangkan separuh lagi dibawah Kapten Mannix bergerak menuju markas Tropaz yang medannya berat, melalui cekungan lembah dan rimba yang banyak sekali durinya. 

Sebelumnya, Rully Lopez menggambarkan sasaran markas Tropaz akan dapat dicapai dalam tempo sekitar 15 menit, ternyata karena medan yang berat baru dapat dicapai dalam 1 jam. Sehingga, jam D diundur menjadi 01.00. Sementara pasukan yang dipimpin Lettu Pauline sudah lebih dulu mencapai sasarannya dan menunggu isyarat dari Mannix. Praktek begini wajar, karena apabila tim Lettu Pauline membuka tembakan sedangkan tim Mannix belum juga mencapai sasarannya atau masih berada di lembah terjal tentu bisa membahayakan pasukan kawan apalagi dalam jauh wilayah musuh.

Ketika tim Kapten Mannix sudah mencapai titik serangan, isyarat pun dilepaskan. Dengan sigap dan serempak Tim Umi A dan Tim Umi B melancarkan serangan ke sasaran masing-masing. Tembak menembak berlangsung seru, sekali-kali diselingi ledakan granat dan rocket launcher, pihak yang diserang ternyata memberikan perlawanan sengit. Tembak menembak sudah berlangsung sekitar 20 menit, dan. Kapten Mannix kemudian memberikan isyarat agar mundur sesuai strategi hit and run yang diterapkan. Kedua tim pun bergegas menjauh kembali secepatnya menuju Titik Kumpul 1. Karena faktor medan dan jarak, tim Lettu Pauline tiba terlebih dulu dan berhubung tim Kapten Mannix belum juga muncul, Pauline menggerakkan pasukannya bergeser menuju Titik Kumpul 2, sesuai kordinasi yang sudah digariskan Wadan Tim Umi Kapten Mannix.

Tidak lama berselang tim Mannix tiba di Titik Kumpul 1 yang baru saja ditinggalkan oleh Pauline dan pasukannya. Disini diadakan konsolidasi sejenak, ternyata dua orang anggotanya terluka. Sertu Parman seorang penembak Launcher tertembak di betis, sedangkan pembantunya Serda Sarwono tertembak jari manisnya sehingga hampir copot. Seorang Dan Unit kemudian memapah Parman kearah sebuah pohon sebagai tempat berlindung dan berpedan agar Parman tidak kemana-mana. "Kamu tunggu disini, saya cari teman, nanti kami jemput" pesan Dan Unit kepada Parman. Saat itu, temaram pagi sudah mulai merekah dan menjelang pagi.

Mannix yang masih memeriksa dan konsolidasi anak buahnya kemudian menemukan 4 lagi anak buahnya yang luka tembak. Kemudian Mannix memerintahkan untuk bergerak dan sebelumnya menjemput Parman dan Sarwono yang ditinggalkan di bawah pohon di atas bukit. Ketika dicari, ternyata keduanya sudah bergeser meninggalkan tempatnya, entah kemana. Sementara rentetan tembakan terdengar semakin mendekat, rupanya Tropaz memburu mereka. Pencarian kemudian dihentikan dan mereka ditinggal, selanjutnya Mannix membawa sisa anak buahnya bergerak menuju Titik Kumpul 2, sambil tetap dalam kejaran Tropaz yang memburu dibelakang. 

Dalam upaya menghindari kejaran musuh, Tim Umi B kembali terlibat kontak sengit dengan pemburunya. Rupanya Fretilin dan Tropaz melancarkan perburuan besar-besaran, akibatnya tidak dapat dilaksanakan linked up antara Tim Umi A Kapten Mannix dan Tim Umi B Lettu Pauline. Tim Kapten Mannix yang berada dibelakang menjadi sasaran perburuan Tropaz, sementara tim Lettu Pauline sudah mencapai Titik Kumpul 2. Mereka sudah berada diseberang perbukitan. ( Belakangan kemudian diketahui Sertu Parman yang keadaan terluka tertangkap dan dieksekusi oleh Fretilin, sementara Serda Saarwono yang juga terluka tidak jelas keberadaannya ). Bersambung...


Demikianlah Timor Timur Mudah - mudah bermanfaat buat sahabat sekalian.

Jika Anda menyukai Artikel di Website ini, Silahkan klik disini untuk berlangganan GRATIS via email, dengan begitu Anda akan mendapat kiriman artikel setiap ada artikel yang terbit di Inspirasi Tanpa Henti

Untold Stories - Operasi Flamboyan Timor Timur (Bagian 1)

Anda pernah menonton judul filem Behind Enemy Lines? Mengisahkan bagaimana ketika seseorang berada dan terperangkap dalam wilayah territory musuh, bukan cuma versi Hollywood dalam sejarah penugasan prajurit negara ini, kisah yang sama bahkan lebih real (bukan settingan film) banyak terjadi. Salah satunya yang akan TS angkat dalam thread ini mengenai Behind Enemy Lines nya OPERASI FLAMBOYAN, sebuah operasi combat intelligent terbatas oleh satuan Baret Merah yang mengawali atau bisa juga disebut Pra Operasi Seroja di Timtim. Kisah "flamboyan" dari Tim Susi,Tim Umi dan Tim Tuti didaerah musuh,bagaimana dan apa yang mereka kerjakan belum banyak yang diketahui masyarakat. 

Ilustrasi

Kini setelah lepasnya Timtim dari NKRI, sedikit demi sedikit kisah mereka mulai terungkap ke permukaan, meskipun military sensor masih membalut apa yang nantinya dituangkan dalam thread ini secara keseluruhan. Nukilan thread mengangkat kisah TIM UMI dan Kapten Mannix nya dalam sebuah kisah penyusupan ke Suai yang tak ubahnya seperti adegan film-film Hollywood dengan adegan tegang,spektakuler,amat menegangkan dan tentu sekali seru. Siapakah Kapten Mannix dalam kisah ini? Nanti akan dijelaskan lebih lanjut.(Kerja dulu, update menyusul)


Clandestine ke Wilayah Musuh
Jauh hari sebelum operasi militer terbatas yang dikenal dengan nama Operasi Flamboyan dilancarkan, Kapten Mannix adalah orang pertama yang ditugaskan menyusup kedalam wilayah Timor Portugis. Saat itu, akhir tahun 1974, setelah Mannix yanhg sudah sering mendampingi Kolonel Inf.Dading Kalbuadi ke daerah Timor,Kupang dan Atambua untuk mencari-cari info kembali ditugaskan dan kali ini penetrasi masuk kedalam wilayah musuh. Asintel Hankam Mayjen TNI LB.Moerdani dan Kolonel Inf.Dading Kalbuadi menugaskan/menyusupkan Mannix sebagai perwira intelijen secara gelap kedalam wilayah Timor Portugis.

Kapten Mannix ditugaskan untuk melakukan penyelidikan didaerah perbatasan dan menyusup kedalam wilayah musuh. Mannix dipercaya mengemban misi yang amat strategis,berat dan berbahaya tersebut. Dia disusupkan sendiri dengan menyamar sebagai seorang mahasiswa dan sama sekali tidak boleh menunjukkan identitasnya sebagai seorang personel militer. Jika tertangkap dia tidak ada sangkut pautnya dengan militer Indonesia.Mannix sangat menyadari penugasan tersebut bertaruh nyawa dan siap dengan segala resikonya, termasuk tidak kembali atau missing.

Situasi perbatasan NTT dengan Timor Portugis ketika itu sudah sangat memanas. Banyak warga sana sudah mengungsi ke wilayah Indonesia. Mereka dikejar-kejar aparat Timor Portugis. Sehingga waktu itu masuk laporan sudah ada 5 orang aparat Timor Portugis yang ditangkap aparat keamanan Indonesia karena memasuki wilayah NTT.

Dalam situasi perbatasan seperti itu, Kapten Mannix menyamar sebagai mahasiswa yang sedang melakukan penelitian. Dia hanya boleh melapor kepada Pangdam Udayana, selebihnya kepada komando dibawahnya seperti Korem,Kodim dan Koramil dirahasiakan. Mengawali tugasnya, Mannix melapor kepada Pangdam Udayana bahwa ia mendapat tugas khusus dari Ketua G1/Intelijen Hankam Mayjen TNI LB.Moerdani. Pada waktu, wilayah perbatasan sudah banyak personil militer TNI berjaga-jaga. Sehingga penyamaran sudah dilakukan meski masih dalam wilayah RI. Pergerakan Mannix tidak hanya dilarang terendus oleh aparat keamanan Timor Portugis namun juga oleh aparat Indonesia.

Setibanya di Atambua, Mannix yang menyaru jadi mahasiswa ini menyewa seekor kuda dan seorang penterjemah penduduk tempatan. Kuda disewa untuk mengangkut beban ke perbatasan. Mannix tahu, di Atambua itu sudah bercokol perwakilan Bakin pimpinan Mayor Inf.Tony Sumardjo (AMN 64), personil Kopassandha yang BKO ke Bakin dan juga sedang menyamar disitu. Mannix dan penterjemahnya itu menyusup masuk, medan sangat berat, jarak antara satu kampung dan kampung lainnya sangat jauh. Bahkan disetiap kampung pun, jarak antara rumah pun berjauhan. Suatu saat hujan turun deras mengguyur seharian sehingga Mannix dan penterjemahnya basah kuyup. Ketika akhirnya tiba di sebuah kampung diperbatasan dia beristirahat dan memanaskan badan diperapian disebuah rumah. 

Kemudian datang seorang penduduk dari atas bukit ngomong pakai bahasa Tetun, memberitahukan bahwa diatas ada dan Komandan Koramil. Danramil itu meminta "mahasiswa" yang tengah memanaskan badan diperapian untuk segera naik keatas. Danramil mau ketemu, mau tanya-tanya, siapa dan apa keperluan si 'mahasiswa' datang ketempat itu. Mannix menjawab, " oh iya, nanti saya akan kesana". Mannix dan penterjemahnya pun segera berkemas, layaknya memang ingin naik menghadap. Bersama penterjemahnya, dia menaiki kudanya dan beringsut seolah-olah ingin memenuhi panggilan Danramil, tapi setelah beberapa meter, arah kuda langsung dibelokkan dan kabur melarikan diri. Mannix menghindari pertemuan tersebut. Dia tidak mau ketahuan baik oleh kawan apalagi lawan.( Danramil tersebut kemudian terindetifikasi adalah Lettu Inf.Kiki Syaknakri/Akabri 1971).

Tiba disebuah perbukitan didaerah perbatasan, Mannix mengambil teropong kecil mengamati wilayah perbatasan. Disitu kelihatan sudah banyak sekali pos-pos penjagaan. Dia kemudian mencari celah diantara pos-pos tersebut. Celah akhirnya ditemukan dan masuk kedalam wilayah Timor Portugis. Celah tersebut merupakan sebuah medan yang sulit dan terjal, yang kemungkinan tidak diperkirakan oleh pos penjagaan Timor Portugis bisa dilalui. ( Dikemudian hari, celah ini menjadi jalur penetrasi Operasi Flamboyan dan jaur escape seorang Sersan anggota Tim Umi yang tercicir dibelakang setelah diburu oleh aparat Timor Portugis ). 

Ketika berpindah kewilayah perbatasan lainnya, Mannix didatangi oleh seorang Dukun yang terkenal sakti dikawasan itu. Orang itu bisa membuat siapa saja menjadi kebal bacokan, parang,panah,tombak dan senjata tajam lainnya. Mannix tertarik, dia merasa membutuhkan 'ilmu kebal' tersebut. Dukun itu pun kemudian tanpa diminta mendemonstrasikan kehebatan ilmunya. Lima orang anak buahnya disuruh tidur di bale-bale, dan kemudian satu persatu perut mereka ditebas dengan parang dan ditusuk tombak. Aneh bin ajaib, bukannya luka tapi melenting kayak karet saja.

Wah Mannix tertarik dan merasa memerlukan kekebalan itu. Kemudian dia bertanya, "Apa syaratnya?" Melalui penterjemah, Si Dukun kemudian menyebut bahwa hanya dengan minum air yang ia datangkan secara ajaib. 2 botol kosong bekas penisilin kemudian diambil dan ditutup rapat2. Kemudian si Dukun semedi dan botol-botol kosong tadi diletakkan diatas jendela tempat Mannix tidur. Ajaib lagi, kedua botol kosong itu langsung terisi penuh air yang entah dari mana datangnya. Kata dukun itu, jika air tersebut di minum, Mannix akan kebal seperti yang diperagakan tadi.

Namun Mannix masih penasaran, kemudian ia bertanya, apakah bisa juga kebal oleh peluru? Dukun dan ke lima anak buahnya menjadi celingak celinguk dan kemudian melalui penterjemah mereka mengatakan bahwa belum pernah dicoba kalau oleh peluru. Lalu Mannix bertanya, "Apa tidak ada diantara kalian yang berani mencoba?" Ternyata tidak ada yang berani, termasuk si Dukun tadi. Mannix mulai ragu, dia merasa tidak membutuhkan tahan ditebas parang, ditikam atau ditombak, yang dibutuhkannya adalah kebal peluru, kebal timah panas.

Namun dia terima juga kedua botol berisi air tadi. Dia pun berpikir mau dikemanakan air itu? Ketika dia melihat seekor anjing kampung melintas, ide gilanya langsung muncul. Anjing itu digiringnya masuk kedalam hutan, dipancing dengan makanan. Tiba dalam hutan, segenggam nasi dan ikan dicampur dengan 'air ajaib' tadi. Satu botol habis dicampurkannya ke nasi makanan anjing dan satu lagi dikalungkan dileher si anjing dan binatang itupun makan dengan lahapnya. Kemudian Mannix beringsut mundur sekitar 3 meter ke belakang dan dengan pistol kecil kaliber 22 dibidiknya anjing itu. Dorrr! Ekor anjing itu putus kena timah panas, si anjing kaing kaing kesakitan melarikan diri. Beruntung Mannix tidak mudah begitu saja percaya ilmu kebal si dukun tadi.

Mannix pun melanjutkan pengintaiannya. Diapun sudah memetakan area mana saja yang dijaga ketat dan berbahaya. Meski begitu, dia juga sudah menemukan dua titik yang bisa menjadi pintu masuk dan keluar wilayah musuh. Setelah dirasa cukup, Mannix kembali ke Atambua dan melapor. Laporan harus secara fisik karena Mannix tidak membawa radio, tentu saja radio komunikasi sangat diperlukan, namun dalam penyamaran seperti ini, membawa radio komunikasi sangat mudah dikenal dan di identifikasi oleh musuh. 

Dari Atambua, Mannix melapor ke Jakarta, atasannya Kolonel Dading dan Pak Benny lega dan menyamangatinya. Kemudian, dari Tony Sumardjo Mannix mendapat info bahwa pada hari-hari tertentu,pasar di Batugede, sebuah kota terdekat dengan perbatasan, warga NTT bisa masuk jual beli disana dengan hanya membawa surat keterangan. Demikian pula sebaliknya, pada hari pasar di Motaain NTT, orang Timor Portugis bisa masuk berbelanja hanya juga dengan membawa surat keterangan, semacam pas lintas begitu. Info ini menginspirasi Mannix untuk menyusup ke Batugede, walau sebenarnya tugasnya hanya di perbatasan. 

Atas inisiatif sendiri meskipun tidak diijinkan, Mannix memberitahu Mayor Tony Sumardjo akan idenya. Mannix pun kemudian masuk ke Batugede dengan menyamar sebagai kuli panggul Cina yang membawa truk barang dagangannya kesana. Saat itu, Leo selaku komandan Tim Susi yang sudah persiapkan ke Timor Portugis sedang melakukan peninjauan ke Atambua, dan langsung menyatakan ikut bersama Mannix. Mereka pun menyamar. Layaknya kuli panggul beneran mereka mengangkuti barang dagangan bos keturunan tersebut. Sambil mengangkuti barang,Mannix mengamati semua keadaan terutama yang menyangkut tentara, polisi dan peralatannya. Para pedagang dari Indonesia menjual bermacam barang kesana dan sebaliknya berbelanja juga seperti rokok,sabun dan minuman Portugis. Disana banyak barang-barang Portugis, para pembeli termasuk dari Indonesia terkadang membeli barang-barang dari tentara Timor Portugis itu dan kemudian dijual lagi di Motaain dan Atambua.

Tengah asyik mengamati dan menyamar sebagai kuli mengangkuti barang si Tauke Cina, tak disangka-sangka mendarat sebuah heli dari Dilli di Batugede. Mannix berusaha secepatnya mencari informasi, siapakah yang datang naik heli itu. Dari seorang tua disana, dia diberitahu bahwa yang datang naik heli tadi seorang petinggi Polisi Militer Timles dari Dilli. Polisi Militer tersebut datang untuk memeriksa para pendatang jangan-jangan ada tentara Indonesia yang menyusup. Terlihat ada 2 orang berkeliaran, seorang perwira dan seorang bintara dengan pakaian preman. Gawat, Mannix membayangkan jika seandainya nanti ketahuan, penyamarannya terbongkar dan ketangkep. "Uh matilah aku disiksa dalam penjara"katanya dalam hati.

Kedua PM Timles tadi berjalan kesana kemari mengamati setiap orang dan menanyakan identitas orang yang dicurigai. Beruntung Mannix luput dari kecurigaan mereka. Mungkin karena memang posturnya yang kecil dan tak pantas dicurigai sebagai tentara. Apalagi saat itu Mannix memelihara gondrong nya, jadi tampangnya terlihat benar-benar seorang kuli ditambah keadannya yang dekil. Hingga sore dan pulang, Mannix tetap aman.

Mannix pun mengetahui banyak hal dari penyusupan tersebut. Diantaranya, didepan pantai ada benteng Portugis yang kuat. Dia juga tahu bagaimana posisi senjatanya, seperti apa tentaranya dan sebagainya. Dia juga tahu jalur mana sebagai pintu masuk dan keluar Batugade jika nanti operasi dilancarkan.

Sementara itu, Satuan Tugas Khusus terdiri dari 100an personel Sandiyudha dibawah pimpinan Mayor Leo sudah ready diperbatasan. Kapten Mannix kemudian menjabat sebagai Kasi Intelijen dalan satuan tugas ini. Bersambung....


Demikianlah Timor Timur Mudah - mudah bermanfaat buat sahabat sekalian.

Jika Anda menyukai Artikel di Website ini, Silahkan klik disini untuk berlangganan GRATIS via email, dengan begitu Anda akan mendapat kiriman artikel setiap ada artikel yang terbit di Inspirasi Tanpa Henti

14 October 2014

Kisah Operasi Seroja Timor Timur - "Si Kancil"

Sebuah kisah prajurit dari Kesatuan 408, Infantri Angkatan Darat yang mengalami cacat serius saat berhadapan dengan Fretilin dan pasukan elit Portugis, Tropaz. Kaki kirinya putus saat terkena ranjau, dan dada kanannya ditembus oleh peluru Get Min milik Fretilin.

Sebut saja Si Kancil, Ia diturunkan di Timor Timur tanggal 23 Maret 1976 untuk merebut Landasan Udara Baukau. Ketika itu ia berusia 22 tahun. Dengan tinggi badan 161 cm dan berat 49 kg, prajurit ini dikenal dengan panggilan “Si Kancil”. Memang, sebuah postur yang kurang ideal untuk seorang prajurit barisan depan, namun berkat kecerdikannya itulah ia mampu lolos dari maut yang selalu membayanginya selama berada di medan tempur.


Dengan lantang dan sesekali tertawa, Bp. Kancil menceritakan beberapa kejadian menarik yang pernah ia alami selama berada di bumi Timor Lorosae. Berikut kisah-kisahnya ;

Kronologi Hilangnya Kaki Kiri
Ketika itu saya tergabung dalam Tim Combat (Comando Batalion). Di satu waktu saya dan anggota regu Combat lainnya harus berlari menuju kapal yang siap mengangkut kami menuju sektor timur. Di sebuah perbukitan angin bertiup kencang. Deru suara mesin kapal mengiringi langkah kami. Derap sepatu Cheko menjadi lantunan irama sebagai pertanda kegagahan kami.

Tak lama kemudian suara derap sepatu sudah tak terdengar lagi, hanya suara mesin kapal yang semakin keras, kami sudah berada di atas kapal. Baru saja menghela nafas panjang, tiba-tiba kami dikejutkan oleh suara rentetan senapan yang silih berganti. Dari kejauhan tampak dua kelompok sedang beradu tembak. Karena jumlahnya tak seimbang, salah satu kelompok terjepit. Kelompok itu adalah teman kami yang hendak menuju kapal.

Melihat kejadian itu saya beserta Tim Combat lainnya bergegas untuk membantu mereka. Kaki-kaki kami pun menolak dari kapal, mencoba menyelamatkan teman-teman kami dari jepitan tentara Fretilin.

Setelah melalui pertempuran sengit, Fretilin berhasil dipukul mundur. Satu diantaranya kami tawan. Dalam kelelahan, kami pun beranjak menuju kapal. Dalam perjalanan menuju kapal, tiba-tiba salah seorang dari kami menginjak sebuah ranjau. Dengan dahsyatnya ledakan itu berhasil melukai dan membubarkan tim kami. Sungguh nahas bagi saya, ketika seluruh pasukan sibuk berlarian menyelamatkan diri, saya malah terguling dari tebing dan terpisah dari rombongan dengan satu kaki, senjata yang rusak, dan tanpa perbekalan.

Dua Hari Terpisah dari Regu
Setelah terguling dari tebing akibat ledakan ranjau, saya terpisah dari Tim Combat. Tidak ada tanda-tanda datangnya bantuan. Dengan sekuat tenaga saya mencoba untuk bertahan hidup. Ditengah perjuanganku melawan rasa sakit, tiba-tiba saya dikejutkan oleh sesosok tubuh yang berada tidak jauh dariku. Diam-diam saya amati sosok itu, ternyata dia adalah seorang Fretilin yang ikut menjadi korban ledakan ranjau. Saya tahu karena ia pun kehilangan salah satu kakinya. Saking dendamnya, langsung saja saya meraih senapan untuk menembaknya, namun sayang senjata yang saya bawa rusak. Bertepatan dengan itu, dia melihat ke arah saya dengan mengacungkan senjatanya seakan siap menghukum mati saya, tapi lucunya senjata dia pun rusak. Ingin hati saling membunuh namun saya dan dia tidak berdaya. Mau tidak mau, kami pun ngobrol dan tak jarang beradu mulut.

Selama dua hari itu saya hanya memakan batang pohon pisang. Sedangkan untuk minum, saya terpaksa menggunakan kaus kaki saya untuk menyerap air (mungkin getah) yang ada di dalam pohon pisang. Cara saya ini rupanya dituruti oleh vretilin itu. Bahkan bukan hanya cara makan saja yang dia turuti, disaat saya menangis pun dia ikut menangis.

Setelah beberapa malam saya lewati, akhirnya penantian itu datang juga. Rasa keputusasaan ini pun akhirnya berakhir ketika teman saya berhasil menemukan tubuh ini tergeletak di bawah pohon pisang.

Mengintai di Mata Air
Ditengah daerah operasi, ada sebuah sumber mata air. Mata air ini layaknya sebuah oasis di gurun pasir. Baik tentara Indonesia maupun Fretilin selalu mengambil air di tempat ini. Memang suatu kondisi yang aneh, di mana dua kubu yang berlawanan harus mengambil air ditempat yang sama. Untuk memanfaatkan situasi seperti ini, saya bersama 4 teman memiliki inisiatif untuk melakukan pengintaian di mata air tersebut menunggu datangnya pasukan Fretilin yang akan mengambil air. Tim disebar menjadi dua kelompok dengan maksud untuk melakukan pengintaian dari dua arah.

Tak ada suara lagi di situ, hanya suara tetesan air yang terdengar. Tak lama kemudian keheninganpun terpecah disaat terdengar suara plung..plung.. yang ternyata adalah suara bambu untuk mengambil air. Kami terus memperhatikan ke tempat suara itu berasal, layaknya seorang pemburu yang mengintai binatang buruannya. Pengintaian kami pun tidak sia-sia ketika enam orang pasukan Fretilin terlihat tepat berada di mata air. Empat orang mengambil air dan sisanya mengawasi.

Kami pun saling memberi kode, maka dengan satu gerakan tangan kami melepas tembakan ke arah mereka. Kami sempat mendapat perlawanan dari mereka. Namun nampaknya mereka tidak mengetahui posisi kami, sehingga tak perlu memakan banyak waktu bagi kami untuk menghabisi mereka. Kami berhasil menembak mati empat tentara Fretilin sedangkan dua tentara lainnya berhasil melarikan diri ke daerah TBO (tempat bantuan operasi = semacam pos keamanan rakyat).

Tak mau kehilangan buruan, saya pun langsung berlari menuju TBO, di sana saya menanyakan kepada orang yang bertugas di pos tersebut, “Kamu lihat Fretilin kabur ke arah sini?”. “Ya”, jawab seorang petugas yang berada di pos tersebut. “Lalu, mengapa tidak kamu tembak?”. Dengan rasa takut ia menjawab, “Maaf saya telah membiarkan mereka lolos, karena mereka adalah kakak dan ayah saya”. Tiba-tiba saja saya termenung seiring dengan berubahnya warna mata air menjadi merah.

Pendadakan Saat Sarapan
Setelah mendapat kiriman sambel kacang, saya dan teman-teman pun istirahat disamping bivak yang telah kami gali masing-masing. Saat kami menikmati makan dengan sedikit bercanda, tiba-tiba kami mendapat serangan dari pasukan elit Tropaz. Jarak kami tidak terlalu jauh. Demi menyelamatkan nyawa, kami semua segera berlindung di masing-masing bivak. Dengan bengisnya, para Tropaz terus memberondong kami. Sambil berlindung, saya berusaha mencari dari mana arah tembakannya. Akhirnya, saya mendapatkan posisi mereka, saya segera merayap keluar bivak melalui got suling besi menuju arah samping dengan membawa senajata AK. 

Saat merayap ransel yang berada di punggung sempat tersangkut di dalam got yang membuat saya tidak bisa bergerak. Saya sempat panik saat itu, dengan susah payah saya mencoba meraih pisau sangkur yang berada di pinggang saya yang akan saya gunakan untuk memotong tali ransel. Setelah berhasil terlepas dari jeratan suling besi, saya kembali merayap menuju arah samping mereka.

Dengan amunisi penuh dari jarak sekitar 40 m saya memberondong keempat Fretilin itu dari arah samping. Kali ini, tak ada satupun Fretilin yang saya biarkan lolos. Kurang dari satu menit, mereka langsung terhempas darahpun bercipratan membasahi genting gereja didekatnya. Dalam kejadian itu satu teman saya Triyono tewas.
(Garuda Militer)

Catatan : -
- Tropaz adalah pasukan elit Portugis yang dipersenjatai lengkap. Berbadan tinggi besar dengan wajah dipenuhi brewok. Sangat ahli menembak di atas kuda. Banyak tentara kita yang nyalinya sempat ciut ketika harus berhadapan dengan mereka.

- Teman saya harus rela memotong jarinya sendiri akibat tergigit ular hijau saat bermain-main dengan ular di dalam bivak alam.

- Bosan karena tidak mendapat balasan surat dari isterinya, akhirnya teman saya Sersan Kio sempat mengirimkan bulu anunya ke dalam amplop surat untuk dikirimkan ke isterinya. Dalam pesannya ia menulis, “Apakah kamu sudah lupa dengan ini?"


sumber


Demikianlah Timor Timur Mudah - mudah bermanfaat buat sahabat sekalian.

Jika Anda menyukai Artikel di Website ini, Silahkan klik disini untuk berlangganan GRATIS via email, dengan begitu Anda akan mendapat kiriman artikel setiap ada artikel yang terbit di Inspirasi Tanpa Henti

21 May 2014

(Cuplikan) Kisah Heroik Tentara Indonesia di Timor-timur

GUNUNG Qablaque merupakan medan yang dimitoskan sebagai medan terberat yang selalu dijauhi oleh para pilot Helikopter dan dijaga oleh setidaknya satu batalyon dengan senjata SMR serta dihuni oleh kurang lebih 7000 rakyat. Tapi sebagian Rakyat telah bosan berada dibawah penjajahan Portugis tanpa ada perubahan kesejahteraan yang berarti, bahkan sebagian besar rakyatnya nyaris hidup dibawah garis kemiskinan.

Oleh karenanya keberadaan pasukan mendapat dukungan dari sebagian masyarakat yang pro yang telah jenuh terus menerus berperang. Dan salah satu keberhasilan penyerangan ini adalah berkat adanya dukungan itu.

Berdasarkan analisa strategic dan masukan yang diberikan para ketua adat dan pemuka masyarakat Timtim (Liurai dan Katuas) yang Pro Republik bahwa Gn.Qablaque hanya dapat dikuasai bila puncak tertinggi (Gn.Barelaca) dan Gn. Daurema dikuasai, karena terdapat suatu titik strategic diwilayah itu yang dapat mengarahkan/mengendalikan jalannya pertempuran.

Untuk itu perlu dibentuk Tim siluman yang bertugas menguasai daerah tersebut secara senyap. Artinya suatu pasukan yang mampu menyelinap ke suatu wilayah secara diam diam untuk kemudian memberikan informasi dan mengarahkan pasukan pada sasaran /target serangan. Dan pasukan itu harus dibentuk dari orang Timtim sendiri.

Gn. Qablaque ini sangat sulit ditembus tanpa bantuan orang pribumi karena merekalah yang paling mengetahui medan Qablaque. Mereka dibentuk dari Hansip, Liurai dan Katuas yang terpilih. Pembentukan pasukan semacam ini semula diduga akan sangat sulit karena mereka mengemban tugas yang berat dengan kemungkinan risiko mati dalam pertempuran besar sekali.

Akan tetapi respon yang diperoleh luar biasa dua Pleton Hansip datang dari Ainaro mereka dengan suka rela mengajukan diri untuk bergabung dalam tim bahkan Danki Hansip Batista De Deus yang menyatakan sakit ketika tau bawa serangan itu akan dipimpin langsung oleh Danyonif 121 Macan Kumbang malamnya menghadap komandan agar diijinkan memimpin Tim Siluman.

Dalam rangka pengintaian Dan Yonif 121 Macan Kumbang berserta angg Kotis dikawal Tim Combat berangkat ke Moncong Babi. Ditengah jalan antara Nanumuque dan Aituto (rumah putih) pasukan diserang , tembak menembak terjadi di kebun kopi musuh mundur menyusun pertahanan keseberang jauh sungai Belulic. Pasukan tidak berusaha mengejar tapi melanjutkan gerakan menuju Moncong Babi, disana telah menunggu Capa Naingolan dari Aituto dan Capa Siregar dari Maubise untuk pengamanan sekaligus Tim Log.

Serangan akan dilakukan dari dua arah yaitu Caicassa oleh Tim Ular, dan Gn. Daurema sebagai serangan pokok dipimpin Dan Satgas Bumi, serangan akan didahului dengan penyusupan oleh Tim Siluman yang berangkat H – 1 Dipimpin oleh Danki Hansip Batista De Deus. Tim siluman berangkat pukul 05.00 akan tetapi baru pukul 05.30 sang komandan Tim sudah melapor.

“Musam , Batista, saya laporkan bahwa anggota tim telah mate dua dan satu luka berat. Saya minta Musam berserta pasukan segera membantu, kalau tidak kami mate semua!” dijawab Dan Satgas,

“Ok! Saya segera datang membantu”. Yang dimaksud dengan Musam adalah Musang nama sandi pasukan yang dipimpin Dan Yonif 121.



Dan RTP 8/SWJ segera melakukan pengecekan terakhir, Dan Satgas Bumi memberikan perintah operasi secara lengkap kepada pada komandan Timpur, Banpur dan Bantem yang dilanjutkan dengan pertanyaan dari pada komandan untuk kejelasan. Pasukan segera bergerak menuju sasarandidahului oleh tim Ular, dilanjutkan tim Topan, Kotis dan Kikis berada disebelah kanan.

Tetapi setelah istirahat formasi dirubah, tim Ular bergerak di kiri dan lainnya di sebelah kanan. Sesampainya di lereng Tim yang berada ditengah mendapat serangan diri Musuh, serangan gencar diarahkan pada pasukan dari persembunyaian yang menyatu dengan pemukiman tapi dibalas oleh pasukan dan berusaha terus maju.

Pemukiman penduduk yang berada disekitar itu sebenarnya merupakan depot logistic musuh mereka menyimpan makanan dan munisi sekaligus sebagai gugus pertahanan awal mereka. Hal ini memaksa pasukan untuk tidak mengambil risiko membiarkan system logistic serta persembunyian mereka mengancam keselamatan pasukan saat ini maupun nanti nya dengan membakar gubuk gubuk tersebut.

Dan terbukti setiap gubuk yang dibakar mengeluarkan ledakan dari munisi yang tersimpan, dan kelak setelah pertemppuaran berakhir akan terlihat bahwa setiap gubuk tersebut ternyata dilengkapi dengan “Ruba-ruba” yaitu perlindungan dari serangan udara dan meriam.

Pasukan berhasil maju melampai dua bukit, pada bukit ketiga menuju kaki Gn. Qablaque, ajudan Dan Satgas sudah tidak dapat berjalan karena mengalami kram, kedua kakinya diikat oleh saputangan dan tali pada ketinggian 1873 m dari permukaan laut udara sudah sangat dingin. Dalam keadaan seperti itu Gino sang ajudan terpaksa ditinggalkan karena pasukan harus tetap maju, sampai pada pertahanan terahir musuh yang dibakar pasukan kembali melingkar untuk menjemput sang ajudan yang sedang termangu dibalik batu besar, membayangkan bila musuh tiba tiba datang dan menyergapnya seorang diri.

Hatinya tiba tiba kecut, bukan pertempuran yang dia takuti akan tetapi kematian sia sia tanpa perlawanan yang disesali. Tapi hatinya bertekad kalau aku harus mati, maka sebanyak peluru yang ada pada magasin senjatanya itulah jumlah korban dipihak musuh. Ia tetap waspada sampai suara lemah bunyi kerikil terinjak dibelakangnya.
Ia berteriak gembira;

” Oh, Komandan!” Dengan tersenyum sang komandan menenangkan

“No, masa saya sampai hati meninggalkan kamu, nanti istri dan anak anak mu akan menuntut saya bila kamu hilang”.

Kemudian bersama sang ajudan yang tertatih tatih pasukan melanjutkan gerakan menyeberangi sungai Belulic karena tim Topan telah berhasil menguasi tepi jauh. Dan dari tempatnyang agak tinggi Sang Komandan memanggil Dan Tim Siluman sambil memberitanda dengan melambaikan peta.

“Batista-Musang, apakah Batista sudah melihat Musang”

“Musam-Batista, saya sudah melihat musam dan kawan kawan, obrigado barak” (terimakasih banyak).

Akan tetapi lambaian Komandan tidak saja dapat dilihat oleh Tim Siluman juga oleh musuh, keruan rentetan peluru menghambur kearah kedudukan pasukan, lalu Komandan memerintahkan pada tim siluman agar segera mengevakuasi yang gugur dan terluka kebawah setelah boks pertahanan musuh didepan dikuasai. Boks pertahanan terakhir berhasil dikuasai pasukan tetepi dengan pengorbanan kedua kaki seorang Danru dari Tim Topan tertembak.

Pasukan berhasil mencapai lereng Gn.Daurema, anehnya tak seorangpun musuh yang sebelumnya begitu gencar menyerang menampakan batang didungnya, tidak ada suara mereka apa lagi bunyi tembakan, keadaan sunyi tapi mencekam tapi pasukan tetap siaga. Kawasan ini merupakan daerah berbatu dan banyak ditumbuhi pohon berukuran sebesar tubuh manusia yang dikelilingi oleh tumbuhan perdu.

Tebingnya berdinding curam dan memiliki celah celah yang dapat dilalui manusia ketika keadaan normal. Celah inilah satu satu nya jalan masuk kepuncak yang teraman dibandingkan memanjat dinding curam yang terbuka, yang dengan sangat cerdik digunakan sebagai boks pertahanan musuh, sementara setiap celah batu ditanami ranjau bamboo bahkan ditanah sebelum mencapai dinding tebing.

Tiba tiba terdengar suara gemuruh, bumi bergetar seakan gunung akan meledak, suara itu bergerak sangat cepat dan itu datangnya dari arah ketinggian. Pasukan serentak berlindung dengan merapat kedinding dan sebagian menjauh berlindung dibalik pohon pohon. Dalam hitungan detik batu batu besar dan kecil berlomba meluncur deras, memantul mantul, menabrak, menggilas apa saja yang dilalui nya diiringi guruh pecahkan telinga, seakan hantu pencabut nyawa penunggu gunung Deurema datang menyapa dengan peringatan.

Karena bagaimanapun bila batu itu dijatuhkan ketika pasukan telah berada dipertengahan tebing akan jauh lebih sulit untuk dihindari. Ketika badai batuan berhenti sementara, pasukan yang cerai berai berupaya mencari perlindungan yang lebih baik dan melakukan konsolidasi.

Komandan memutuskan untuk menunda serangan menghindari jatuh koorban yang besar bila dipaksakan sambil melaporkan ke Macan (RTB 8/SWJ). Hari telah menjelang malam Para komandan Tim dipanggil untuk diberikan perintah, pasukan secara otomatis bergantian untuk makan malam, yang tepat adalah makan siang yang dilaksanakan malam hari, sementara jenasah dan yang terluka dievakuasi ke Aituto.

Sambil menyusun pertahanan sementara dan menyiapkan kubu kubu untuk yang terluka atau gugur agar memudahkan tim evakuasi yang akan membawa mereka turun ke Aituto dan Maubise yang kemudian akan dibawa ke Dili dengan pesawat Heli. 


MALAM merambat pelan, batu batu kembali dijatuhkan secara berirama diselingi oleh rentetan tembakan menyilang secara spekulasi dari atas, cuaca gelap diselimuti kabut tebal yang merayap pelan menciptakan udara yang dingin menggigit, pasukan terpekur kelelahan merenungkan apa yang akan terjadi esok hari. Dan diatara keremangan puncak gunung dalam siluet cahaya bulan nampak jelas musuh berjalan hilir mudik secara demonstrative untuk menurunkan moril lawan.
Hanya saja pasukan justru menjadi terbiasa bunyi jatuhan batu yang berdentam dentam dan tembakan spekulatif musuh hanya menunjukan dimana posisi mereka dari cahaya yang ditimbulkan dari moncong senjatanya. Secara bergantian mereka berjaga dan tidur menyiapkan diri untuk gerakan esok hari.

Pagi hari pengarahan diberikan Dan Satgas Bumi di Titik Tinjau, pada saat kesempatan Tanya jawab Dan tim Kikis (Danki Yonif 301) mengajukan keberatan pada perintah Dan yonif 121 Satgas Bumi untuk ditempatkan digaris depan pertempuran dengan alasan telah banyak korban, sesungguhnya dalam militer penolakan seperti ini tidak diperkenankan, namun komandan bersikap bijak melihat beratnya pengalaman pertempuran yang mereka alami dan bisa saja menurunkan moril prajurit yang kurang terlatih mentalnya.

Sehingga komandan tersebut diberikan kesempatan untuk mendiskusikan kembali bersama anggotanya, namun dari hasil diskusi dilaporkan bahwa keputusan yang diambil tetap sama. Kondisi ini menyulitkan Dan yonif 121, tapi sebagai pimpinan harus bijak karena bagaimanapun keberhasilan serangan akan sangat ditentukan oleh kesiapan seluruh tim, jatuhnya moril sebagian pasukan bila dipaksakan akan mempengaruhi moril pasukan yang lain bahkan keselamatan dari pasukan itu sendiri, dan ini tidak boleh dibiarkan.

Kemudian Dan Yonof 121 MK. Memanggil tim Combat, Dan Tim Topan Lettu Inf Suharyono,

“ Har! Kamu menyerang paling depan menggantikan Tim Kikis, kamu serang semua kedudukan boks boks musuh melalui jalan yang telah saya tentukan, saya dan Tim Kotis bergerak dibelakangmu, Tim Kikis bergerak dibelakang Tim Kotis”, yang dijawab Lettu Suharsono “Siap Komandan”.

Sementara Tim Ular diperintahkan merebut Monte Caicassa. Setelah pengarahan semua Dan Tim diperintahkan kembali kedudukan pasukannya, mereka pergi dengan cara mengendap diantara pohon besar menghindari ruang terbuka berbatu.

Sementara sang komandan dengan tenang melangkah diantara rentetan peluru yang ditembakan terarah oleh musuh dari atas. Peluru caliber 7,9 mm dengan jelas menembus batang batang pohon kemudian keluar lagi dengan membawa serabut kayu, sementara tembakan kebawah memantul memercikan api beradu dengan bebatuan dengan kuasa Tuhan tak satupun yang menyentuh kulitnya.

Tindakan demonstrative ini merupakan upaya untuk menaikan moral anak buah sekaligus merusak moril musuh walaupun sebenarnya dapat berakibat fatal dan kesalahan yang tidak perlu. Tapi kenyataan dimedan tempur dapat membuat segan lawan maupun kawan seperti halnya ulah Napoleon dalam pertempuran Waterloo yang terkenal.

Namun pertempuran berjalan tidak mudah, gerak maju pasukan dihambat oleh serangan bertubi tubi dari atas diselingi oleh jatuhan batu sebesar anak kerbau. Suara rentetan peluru beradu dengan guruh dan dentuman batu yang terhujam deras memantul mantul diatara tebing dan tonjolan batu karang, mengintai para prajurit lengah yang merayap diantara sisi sisi batu besar sambil menghindari ranjau bambo runcing yang siap menangkap tubuh tubuh yang gontai kelelahan.

Tapi mereka tetap maju merayap, melompat diantara batu, berlindung, membalas tembakan, ketika kelompok satu menembak kelompok lain melompat maju bahu membahu saling melindungi, pasukan yang dipimpin letnan suharsono, Joko Santoso , dan Sujarwo perlahan tapi pasti merayap dan melompat dari batu kebatu untuk merebut boks pertama.

Sementara Tim Siluman melaporkan 2 (dua) anggotanya gugur lagi tapi tetap bertahan pada medan yang dudukinya, untuk memberikan informasi kedudukan musuh dan mengarahkan pasukan dibawah menuju sasaran utama. Sementara Tim Siluman melaporkan 2 (dua) anggotanya gugur lagi tapi tetap bertahan pada medan yang dudukinya, untuk memberikan informasi kedudukan musuh dan mengarahkan pasukan dibawah menuju sasaran utama. Karena gerakan maju sangat lambat Satgas minta bantuan pada Kresna (Pangkoda Hankam Tim Tim) bantuan tembakan udara. 

Dua pesawat (OV-10) menderu muncul dari sektor barat minta konfirmasi sasaran tidak seorangpun yang dapat menjawab, pesawat kembali berputar menunggu jawaban, masalah timbul karena ternyata tidak seorangpun mengerti bagaimana mengarahkan pesawat, sebab pada kursus dasar cabang kompi infanteri maupun pada kursus lanjutan perwira infanteri (Suslapa) belum diajarkan bagaimana memimpin dan mengendalikan bantuan tempur udara.

Disamping itu untuk menentukan arah angin dengan menggunakan koordinat 6,8 dan 10 angka dalam rangka bantem udara dibawah tembakan gencar musuh kenyataannya sangat sulit, selain akan memecahkan konsentrasi pengkomandoan dan pengendalian pasukan. Akhirnya pesawat diarahkan dengan tidak menggunakan arah angin dan koordinat peta, akan tetapi secara manual dengan menggunakan panel berbentuk tanda panah serta perkiraan jarak sasaran, sedangkan setiap perubahan ditunjukan dengan merubah rubah arah panel tersebut.

Informasi ini ternyata dapat dimengerti oleh pilot, ketika Dan Satgas mengarahkan;
“Kampret – Musang, enam ratus meter dari ujung panel langsung tembak”.

Pesawat menukik tajam dengan suara yang menggetarkan nyali langsung menembak sasaran dengan tepat kemudian naik melingkar menghindari tebing, meluncur meninggalkan medan kemudian berputar kembali untuk persiapan penembakan berikutnya.

Serangan ini memberikan momentum bagi pasukan dibawah komando Letda Inf Joko Santoso dari Tim Topan dan Letda Inf Sujarwo dari Tim Badai untuk bangkit dari perlindungan melompati batu batu sambil memberikan tembakan pada musuh yang konsentrasinya terpecah, serabutan mereka mundur meninggalkan boks pertahanan nya.

Sementara serangan Armed (Artileri Medan) tetap dilakukan untuk mempertahankan momentum yang sudah tercipta sekalipun dalam kondisi ini efektifitas nya kurang dapat diandalkan, hal itupun nampaknya dimengerti oleh musuh, bila mereka semakin merapat pada pasukan TNI, serangan Artileri tidak akan membahayakan mereka.

Sementara Pilot OV – 10 memanggil Dan Satgas;

“Musang – Kampret”,

“Masuk Kampret”.

“Munisi tinggal sedikit”,

“Baik, manfaatkan, gudang garamnya dilepas kesasaran”, Pilot menjawab;

“Musang – Kampret, kalau gudang garam saya lepas akan menggelinding ketempat anda”, “baik kalau gitu coba diketinggian belakang, akan saya lihat”.

Ternyata benar bom yang dijatuhkan pecahannya berjatuhan kebawah.
Kemudian Pilot memberikan informasi;

”Kampret – Musang, munisi sudah habis, musang mengendap dulu kami segera kembali”. Dijawab oleh Dan Satgas;

“Kami tidak akan mengendap, kalau mengendap kami akan habis”. Akan tetapi yang menjawab adalah Pangkodahan Tim Tim (Kresna) yang memonitor pertempuran;

“Musang – Kresna, silahkan kembali mengisi munisi, bantuan ditunggu”.

Sekali lagi pesawat menderu meninggalkan medan tempur dan kali ini tidak untuk berputar, yang dimanfaatkan oleh pihak musuh kembali melancarkan tembakan dengan membabi buta tidak terarah sehingga tidak terlalu menyulitkan Tim Topan/Badai untuk merebut boks boks pertahanan mereka.
Mendekati ujung teping lereng Daurema, Tim Topan disebelah kiri terhambat serangan gencar musuh, sedangkan tim Badai yang berada dikanan memiliki medan yang lebih baik terus maju, tiba tiba diberondong tembakan dari tiga arah depan sekaligus, kanan, kiri dan depan lurus.

Mendapat tembakan gencar seperti ini membuat pasukan sulit untuki berlindung, korban berjatuhan dan gerakan terhambat. Melihat kondisi ini Tim Combat dibawah pimpinan Letda Suharsono merapat kedepan memberikan bantuan dengan meminta Tim Topan bergeser kekanan, kemudian maju mererobos hujan peluru yang ditembakan musuh, aksi ini menyebabkan seorang Hansip tertembak, akan tetapi berhasil melancarkan serangan yang dibangun Letda Joko, sementara tim Topan kembali dapat bergerak dan menguasai Boks musuh.

Setelah Boks dikuasai tim Guntur bergabung dengan tim Topan untuk serangan kesasaran utama dan mendapat perlawanan sengit, Dan Satgas Bumi memerintahkan Dan Tim kalong (Letda Sutan Lubis) membantu tapi tidak bisa karena pesuruh Dan Tim gugur, Dan Tim tidak tega meninggalkan.

“Kalong – Musang yang harum supaya ditinggalkan nanti saya ambil, bantu pasukan depan segera”.

Kenyataan sulit bahkan Tim Kalong minta bantuan Badai.

“Badai – Kalong anggotaku yang harum supaya diambil”, yang dijawab oleh Badai;

“Kalong – Badai , tenang saja tinggalkan yang harum, bantu pasukan didepan anggotaku sudah 5 (lima) yang kena!”.

“Badai – Kalong baik kami maju”, tapi ketika kalong maju keadaan telah dikuasai Topan dan Badai. Karena mendapat bantuan dua OV-10 (Kampret) dari Bacau.

Perlu mendapat apresiasi dari performa yang ditunjukan dua pesawat bantem OV – 10, karena kejelian dan keakuratan nya dalam menghancurkan sasaran berperan besar dalam perebutan boks boks pertahanan musuh. Fretilin mundur berloncatan dari Boks yang satu ke Boks yang lain. Pada Boks yang ditinggalkan ditemukan amunisi dan Fretilin yang gugur/luka. Gn.Daurema direbut pada hari ke 2 (dua) hari telah senja. (blog.kedaigadogado.com)


Demikianlah Timor Timur Mudah - mudah bermanfaat buat sahabat sekalian.

Jika Anda menyukai Artikel di Website ini, Silahkan klik disini untuk berlangganan GRATIS via email, dengan begitu Anda akan mendapat kiriman artikel setiap ada artikel yang terbit di Inspirasi Tanpa Henti

 

© 2013 Inspirasi Tanpa Henti. All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top