Showing posts with label Untold Stories. Show all posts
Showing posts with label Untold Stories. Show all posts

16 October 2014

Untold Stories - Operasi Flamboyan Timor Timur (Bagian 4 - Habis)

Berusaha Mencapai Perbatasan
Setelah terlibat dengan kontak senjata sengit dan setelah mempelajari pergerakan musuh yang mengejar beberapa saat, mereka kemudian bergerak mencari jalan pulang ke Atambua di sebelah barat. Namun perjalan pulang tidak semudah yang dibayangkan, sebab dibeberapa tempat mereka masih harus terlibat kontak senjata dengan musuh yang terus membayangi pelolosan pasukan. Ternyata musuh sangat menguasai medan dan menyebar dimana-mana. Sehingga perjalanan yang semula direncanakan selama 10 hari menjadi 15 hari. 

Ilustrasi
Memasuki hari kelima logistik sudah habis. Makanan tidak ada, air minum juga susah. Masih beruntung terdapat banyak pohon kelapa yang bisa diminum dan dimakan air dan buahnya. Ketika memasuki sebuah kampung yang ditinggal mengungsi oleh penduduknya, mereka menemukan seekor ayam betina yang sedang mengerami anaknya. Tanpa basa basi lagi, ayam tersebut langsung di sembelih dan dimasak tanpa bumbu. Mereka pun mengeroyok daging ayam betina itu.

Keletihan yang amat sangat sudah menghinggapi semua anggota pasukan tak terkecuali Kapten Mannix. Lapar dan haus luar biasa. Menyadari hal tersebut, pada satu titi-titik yang aman, Mannix mempersilahkan anak buahnya beristirahat beberapa menit. Mereka pun merebahkan badan dan langsung tertidur nyenyak. Setelah beristirahat, mereka langsung bergerak agar tidak sempat terdeteksi dan terkejar oleh musuh. Mannix sangat melarang anggota nya membuka tembakan, kecuali bila sudah sangat terdesak. Sebab amunisi mereka sudah sangat terbatas, masing-masing hanya tinggal sekitara 20 butir saja dari 250 persediaan semula.

Karena dibeberapa titik pelolosan sudah di blokade oleh Fretilin dan Tropaz, Mannix berdiskusi dengan Rully Lopez yang notabene juga mantan Tropaz. Mannix menjelaskan bahwa jika mereka terus berjalan lurus ke barat mereka akan menghadapi banyak pencegatan musuh.

"Kalau kita menuju selatan hingga mencapai pantai dan menyusuri pantai menuju barat (perbatasan) apa ada tempat yang bisa menjadi perlindungan?"Tanya Mannix keLopez.

"Ya, ada pak. Saya tau tempatnya" jawab Rully Lopez. Akhirnya Mannix memutuskan bahwa jalur pantai lah yang akan mereka tempuh. Mereka pun kemudian bergerak dengan hati-hati sambil tetap dengan kewaspadaan tinggi.

Setelah menempuh perjalanan hampir 15 hari, mereka kemudian memasuki sebuah kampung diperbatasan Timles dan NTT. Semua penduduk kampung tersebut ketakutan dan berusaha kabur, mereka mengira Fretilin menyerang dan masuk kampung mereka. Untunglah melalui penterjemah yang dibawa dijelaskan bahwa mereka bukan Fretilin melainkan tentara Indonesia. Akhirnya penduduk merasa tenang dan kembali ke rumah masing-masing. Bahkan kemudian penduduk kampung memberi mereka makan. Beberapa ekor ayam dipotong, dimasak dan dibakar tanpa bumbu, hanya garam. 

Namun semua mereka makan dengan lahapnya, terasa sangat luar biasa enaknya. Semua anggota pasukan sudah terlihat amat kurus, tak terkecuali Kapten Mannix. Pipinya sudah cekung kedalam karena selama hampir 14 hari sama sekali tidak makan yang wajar. Dua hari setelah mereka berada di basis Kotabot, tiba-tiba beberapa penduduk berlarian sambil berteriak mengatakan ada seseorang membawa senjata memasuki kampung nya, mereka mengira itu pasti Fretilin. Ternyata orang tersebut adalah Serda Sarwono yang sempat dinyatakan missing. Pembantu penembak roket ini hampir putus jari tangannya diterabas peluru musuh. Sarwono mengiris sendiri jari tangannya hingga putus dan mengobatinya sendiri secara ala kadarnya. Dia pun berhasil menyelamatkan diri dan mencapai perbatasan dengan kisah yang tidak kalah dramatisnya.

Ditegah hujan tembakan dan kejaran gabungan Fretilin dan Tropaz, Sarwono bersembunyi dan menyelinap menyusuri hutan dan pesisir pantai yang sebelumnya dilalui Mannix dan pasukannya. Ketika Mannix menanyakan bagaimana ia menyelamatkan diri, "Saya ingat petunjuk bapak, jika tersesat ikuti saja kearah mana matahari terbenam" jelasnya. Kemudian, ia menemukan jejak-jejak rekannya dan terus menelusurinya.

Sempat beberapa kali Sarwono hampir tertangkap Fretilin yang juga mengejar Tim Umi. Suatu kali, ketika Sarwono sedang memasak, dan sudah hampir matang siap disantap, tiba-tiba Fretilin datang. Dengan sigap Sarwono bersembunyi. Tentara Tropaz dan Fretilin tersebut kelihatan sibuk memeriksa kawasan itu mencari keberadaannya. Lama sekali Sarwono diam membisu di belukar dan berdiam seperti patung. Dalam keadaan menegangkan itu dia sudah menggenggam sebuah granat, siap-siap diledakkan bila mana dia sampai tertangkap.

Ketika Tim Umi meninggalkan kampung tersebut menuju Kotabot, Sarwono segera dievakuasi ke rumah sakit untuk mencegah inveksi pada luka buntung jarinya.


Tim Umi Merebut Batugade

Tidak lama kemudian, Tim Umi yanh sudah konsolidasi diperintahkan berangkat dari Kotabot berkumpul di Motaain, sebuah desa kecil wilayah NTT perbatasan berjarak 25km dari Atapupu dan hanya 3km dari Batugade. Batugade sebelumnya dikuasai oleh UDT namun setelah pertempuran sengit, UDT terusir ke perbatasan dan Batugade diduduki Fretilin.

Padahal Batugade sangat penting karena merupakan pintu gerbang keluar masuk wilayah Timor Portugis. Fretilin juga maklum akan itu, sehingga mereka mengerahkan sebuah Frigat ex AL Portugal yang dikuasai bergerak dari Dilli menuju perairan dekat garis perbatasan. Kehadiran kapal jenis frigat yang diyakini bersenjata lengkap ini memberikan kekhawatiran kepada pihak UDT dan penduduk NTT di perbatasan.

Dalam situasi dan eskalasi yg semakin meningkat, Kol.Jonas memerintahkan Kapten Mannix untuk segere membawa tim nya merebut Batugade. Padahal Tim Umi baru saja konsolidasi dan belum lengkap (Dalam gerakan kemarin,Tim Umi menderita kerugian 1 gugur, 7 luka2, 2 stress dan terpaksa dipulangkan). Namun dengan kondisi personil terbatas hanya dengan 1 Prayudha, Mannix membentuk pasukan penyerbu. Pasukan ini merupakan gabungan yg terdiri dari : 1 Prayudha Tim Umi Sandiyudha, 1 Peleton Parako di bp. Lettu Inf.Sugiarto dibantu sukarelawan Apodeti, UDT, KOTA, Trabalista, dan beberapa ex Tropaz.

Mannix yg sudah memetakan kondisi Di Batugade memimpin pasukan dalam kelompok-kelompok kecil membentuk basis gerilya, bergerak menyusuri hutan dan perbukitan dengan sasaran Batugade. Ketika hari H ditentukan, secara sporadis serangan dilancarkan. Pertempuran sengit terjadi. Dari arah laut, Tim Parako pimpinan Sugiarto bergerak melambung menyusup rusuk benteng Tropaz di tepi pantai.

Namun tak disangka, ditengah-tengah pertempuran memperebutkan benteng Tropaz, pasukan Mannix dihujani tembakan meriam dari arah laut. Rupanya Frigat yg sudah dikuasai Fretilin beraksi. Segera Mannix menghubungi pasukan Marinir TNI-AL yang juga sudah standby meminta bantuan. Anggota Marinir segera meggelar artileri dan panser nya di tepi pantai. Jika dalam pendaratan pasukan Sekutu di Sicilia dalam PD II terjadi duel tembakan antara kapal-kapal perang sekutu dan tank-tank Jerman di pantai, mungkin ini duplikatnya namun dalam skala lebih kecil. Frigat Fretilin di tembaki oleh tank ringan,panser,meriam dan bahkan mortir Marinir dari pantai. Mendapat hujan tembakan, Frigat ini pun kemudian mundur kembali ke Dilli.

Menjelang senja, benteng Tropaz di Batugade sepenuhnya dikuasai oleh pasukan gabungan Mannix. Namun Fretilin masih juga membuat serangan dadakan malam harinya. Mortir dan bazooka menghujani benteng. Kini keadaan terbalik, pasukan Mannix yg bertahan dan Fretilin yg menyerang. Serangan dapat dipatahkan, dan Fretilin mundur melarikan diri.

Kemudian para sukarelawan pimpinan Mannix bergerak menuju kota dan merebutnya. Batugade merupakan kota pertama yg jatuh ketangan 'sukarelawan' dalam Operasi Flamboyan. TAMAT

Referensi :
1. http://www.kaskus.co.id/show_post/543bdcc6de2cf2a3378b456e/1748/-
2. http://www.kaskus.co.id/show_post/543bde6396bde6ce358b456a/1749/-
3. http://www.kaskus.co.id/show_post/543bde9531e2e68d2d8b4571/1750/-
4. http://www.kaskus.co.id/show_post/543bdf30108b46f16c8b4568/1751/-


Demikianlah Untold Stories Mudah - mudah bermanfaat buat sahabat sekalian.

Jika Anda menyukai Artikel di Website ini, Silahkan klik disini untuk berlangganan GRATIS via email, dengan begitu Anda akan mendapat kiriman artikel setiap ada artikel yang terbit di Inspirasi Tanpa Henti

Untold Stories - Operasi Flamboyan Timor Timur (Bagian 3)

Berjuang Mencapai Perbatasan
Hari sudah pagi, matahari sudah menembus temaramnya rimba dan bukit bukau, namun pergerakan escape Kapten Mannix dan tim nya menjadi agak terhambat, sementara dibelakang musuh masih terus memburu. Tim Umi A gerakannya agak melamban karena harus membopong 4 rekan mereka yang terluka. Dalam teori Spesial Force pada penugasan yang dimaklumi oleh semua personil komando, jika anggota terluka menjadi beban dan bisa membahayakan anggota lainnya 'tembakan wajib' diberi saja supaya tidak lagi jadi beban.

Ilustrasi
Bahkan para senior Mannix yang dihubungi via radio menyarankan agar yang luka ditinggal saja agar tidak menghambat pelolosan. Tapi Mannix tidak tega melakukannya karena dia bertekad dan yakin bisa menyelamatkan ke empat anak buahnya itu. Mannix dan anggota nya bergantian membopong rekan mereka yang terluka, sambil masing-masing tetap dengan senjata ditangan, sementara ajudan nya membawa ransel-ransel. Ditengah gempuran pasukan musuh yang terus mengejar, sisa tim yang tidak cedera melakukan perlawanan dan melindung punggung rekan mereka di depan. Ketika tiba di suatu tempat yang cukup jauh dari kejaran musuh, keemapt anggota yang terluka tersebut menyadari dengan sadar bahwa mereka hanyalah beban bagi pelolosan tim dan memperlambat gerakan pasukan. Mereka pun meminta kepada Mannix agar ditinggal saja. 

Anggota yang dipapah Mannix, seorang Letnan Dua meminta supaya dia ditinggal saja, senjatanya dikokangkan, dibekali granat dimana jika dia tertangkap akan berjibaku meledakkan granat tersebut ditengah-tengah musuh. "Ijin ndan, mohon saya ditinggal saja,saya hanya menghalangi gerakan ndan" kata anggotanya dengan suara lemas. Letda tersebut terluka dirusuk kiri oleh tembakan pengejaran musuh. Namun Mannix meyakinkan, "Tidak! Kamu bisa saya selamatkan. Tetap sadar, dan kuatkan dirimu. Semoga kita berhasil tiba di perbatasan!"

Mereka pun terus bergerak menuju arah barat.Hari sudah semakin meninggi, perut juga keroncongan, rasa lapar dan haus sangat mulai terasa. Tiba disuatu tempat yang relatif aman dari jangkauan para pengejar, disebuah lembah dimana terdapat mata air yang kelihatannya sangat bening, mereka pun beristirahat. Setelah minum sejenak, anak buah Mannix mulai memasak. Sementara itu, Mannix membuka hubungan radio, berkomunikasi dengan markas aju di Atambua, menghubungi pimpinan Ops Flamboyan Kolonel Jonas meminta bantuan evakuasi helikopter. 

Tidak lama heli penjemput pun datang, namun terbang tinggi karena khawatir ditembaki musuh dari bawah. Walaupun Kapten Mannix dan anak buahnya sudah membuat segi lima asap, awak heli tetap tidak bisa menemukan lokasi mereka karena terbang terlalu tinggi. Akhirnya heli evakuasi memutuskan kembali ke Atambua tanpa hasil. Mannix dan anak buahnya tersenyum kecut.

Mannix pantang menyerah. Dihubunginya lagi Kolonel Jonas meminta dikirimi ulang heli untuk evakuasi keempat anggotanya yang terluka, dan permintaan ini pun dengan cepat terpenuhi. Kini yang mengudara sebuah heli sipil dengan pilot Bambang Irawan, seorang pilot Pelita Air milik Pertamina yang disewa. Dalam hal ini, Major Patricia yang bertugas sebagai Kasiops Flamboyan ikut serta. Namun kendati sudah terbang rendah, mereka tidak juga menepukan titik asap yang dibuat Kapten Mannix dan anak buahnya. 

Akhirnya, Mannix pun terpaksa menembakkan pistol dengan tebakan isyarat berwarna hijau. Melalui radio Mannix bertanya apakah mereka sudah meliat isyarat yang dibuatnya. "Ya kami sudah lihat, sudah lihat!" Kata Pilot dan Major Patricia. Namun dilain pihak, tembakan isyarat yang dilepaskan oleh Mannix jadi bumerang, menunjukkan lokasi tempat DZ dan pasukannya oleh musuh. Tropaz pun berusaha mengejar mendekati lokasi DZ.

Evakuasi Yang Menegangkan
Kapten Mannix terus berkomunikasi lewat radio dengan pilot Bambang Irawan. Mannix menuntun supaya heli diterbangkan kearah selatan, dari arah Laut Timor yang bersebelahan dengan Australia agar lebih aman. Namun pilot sempat memutar dari arah timur, padahal musuh berkeliaran disana. Tak ayal heli diberondong tembakan dari bawah oleh berbagai jenis senjata campuran. Beruntung saja heli cepat menghindar tanpa ada yang terluka. Heli evakuasi akhirnya dengan susah payah meski diberondong musuh berhasil menemukan Tim Uminya Kapten Mannix. Lantas langsung dijatuhkan beberapa jerigen air minum, sebab mereka mengira pasukan sudah kehausan dan tidak menemukan air bersih. 

Ditengah kejaran Tropaz yang semakin mendekati LZ, ke empat anggota yang terluka digotong masuk heli yang penumpangnya hanya 3 orang, Pilot Bambang Irawan. Major Patricia dan seorang bintara Kopassandha. Ada kesulitan, sebab seat-nya hanya ada tiga sedangkan tambahan penumpang 4 orang terluka. Namun terpaksa ke empatnya di bawah masuk, seorang lagi diletakkan dibagasi heli. Sungguh sebuah penyelamatan dramatis dan spektakuler. Kemudian Tropaz datang menyergap, sisa pasukan meladeninya sambil melindungi proses evakuasi. Kembali kontak seru senjata seru terjadi.

Saat musuh menghujani mereka dengan tembakan, Mannix meletakkan ransel dan senjatanya dibawah pohon untuk bisa membopong anggotanya yang terluka naik heli, setelah itu kembali untuk mengambilnya, ternyata ransel dan senjatanya sudah tidak ditempat. Rupanya, anggota pasukan lain sudah menbawanya naik ke atas bukit untuk bertahan dari gempuran Tropaz dan Fretilin. Ditengah hujan tembakan, Mannix berhasil mencapai bukit dimana anggota pasukannya bertahan. Karena posisi mereka strategis diatas bukit, musuh tidak berani mendekat, hanya meladeni tembakan-tembakan dari jauh.

Setelah berhasil mengevakuasi anggotanya dan bisa selamat naik keatas bukit, Mannix menarik nafas lega. Dia bersyukur, apalagi setelah melihat heli sudah mengudara menuju Atambua. Dalam hati, dia merasa salut kepada sang pilot Bambang Irawan, yang meski hanya seorang sipil tapi nyalinya tidak kalah dari pilot tentara. Dalam hati Mannix berharap pilot tersebut mendapatkan penghargaan. Bersambung...


Demikianlah Untold Stories Mudah - mudah bermanfaat buat sahabat sekalian.

Jika Anda menyukai Artikel di Website ini, Silahkan klik disini untuk berlangganan GRATIS via email, dengan begitu Anda akan mendapat kiriman artikel setiap ada artikel yang terbit di Inspirasi Tanpa Henti

Untold Stories - Operasi Flamboyan Timor Timur (Bagian 2)

The Legend Blue Jeans Soldiers
Judul diatas merupakan identitas dari Satuan Tugas Khusus yang dibentuk dalam Operasi Flamboyan. Satgas yang beranggotakan 100an personel Baret Merah ini dipimpin oleh Mayor Brandon, dibagi dan dikembangkan menjadi 3 tim dengan nama sandi wanita yaitu Tim Susi, Tim Umi, dan Tim Tuti. Tim Susi dipimpin langsung oleh Komandan Satgas Mayor Brandon dengan Wadan Kapten Jeany. Tim Tuti dipimpin Mayor Patrice dengan Wadan Kapten Prince, dan Tim Umi dipimpin oleh Mayor Leo dengan Wadan Kapten Mannix. Ketiga Komandan adalah lulusan AMN 1965 sedangkan para Wadannya lulusan AMN 1968. Pemilihan anggota tim dilakukan secara cermat dan seleksi ketat. Mereka umumnya direkrut dari Satuan Sandiyudha Grup 4 yang kala itu dipimpin Kolonel Inf.Edi Sudrajat, pengecualian bagi Kapten Mannix yang merupakan BKO dari Satuan Grup 2 Parako/Kopassandha Magelang. 

Ilustrasi

Operasi Flamboyan dipimpin oleh Kolonel Jonas dan wakilnya Letkol Sergio serta asisten operasi Mayor Patricia. Tim Susi,Umi dan Tuti sebagai pelaku limited combat intellingence disusupkan dengan tidak berstatus personel militer, tetapi sukarelawan dengan identitas kaos oblong dan blue jeans. Operasi intelijen tempur terbatas ini sangat penting untuk mengetahui kondisi dan situasi lapangan dalam rangka menetukan gerakan pasukan yang lebih besar mana diperlukan. Operasi ini juga mendapat dukungan dari sukarelawan lokal yang berkeinginan untuk berintegrasi kedalam NKRI.

Pusat komando berada di Motaain dan ketiga tim disebar menyusup ke wilayah Timor Portugis dengan berbagai samaran profesi, dari pedagang kuda, pekerja listrik, pelajar, mahasiswa dan sebagainya. Danjen Kopassandha ketika itu Mayjen TNI Yogie S Memed selalu memberi nama Nanggala dalam setiap satuan tugas (Tim RPKAD yang diseludupkan dari KS Whiskey di dekat Jayapura dalam Trikora di tahun 1962 dinamakan Nanggala 1) dalam setiap penugasan operasi intelijen tempur yang dilakukan Sandiyudha. Tim Susi Kopassandha Grup 4 diberi nama Nanggala 2, Tim Tuti Nanggala 3, dan Tim Umi Nanggala 4. 

Akibat kurangnya personel, maka Tim Tuti dan Umi masing-masing terdiri dari dua Prayudha Kopassandha dan dua Peleton Parako. Saat Timor Portugis dalam keadaan kacau balau dan terjadi eksodus besar-besaran, pemerintah Portugis sendiri meminta Pemerintah Indonesia mengungsikan warga asing dan Portugis dari Dilli. Pihak Indonesia kemudian merespon dengan mengirimkan KRI Mongisidi dan Satgas dibawah pimpinan Kolonel Laut Subiyakto. Namun saat upaya pengungsian warga asing dari Dilli hendak dilakukan, tiba-tiba Gubernur Lemos Peres mengeluarkan perintah yang meminta KRI Mongisidi segera meninggalkan Dilii.

Tindakan Lemos Peres tersebut sangat disayangkan oleh Indonesia dan mendapat protes keras dari pihak AS dan Australia. Saat itu masih banyak warga asing yang ketinggalan, bahkan staf Konsulat Indonesia di Dilli juga tidak sempat naik kapal sehingga terpaksa melalui perjalanan darat dengan kawalan beberapa personil Marinir AL melalui jalur darat, dalam perjalanan yang menegangkan selama lima hari sebelum tiba di perbatasan.

Tim Susi dan komandannya Mayor Brandon disusupkan lebih awal. Sementara Tim Umi pimpinan Mayor Leo dan wakilnya Kapten Mannix menyusul kemudian. Semua direncanakan akan lebih dulu menyusup melalui Kefamenanu untuk menguasai Ambeno, sebuah wilayah Timor Portugis yang terpisah didekat wilayah Timor Barat NTB, namun rencana ini dibatalkan. Tim Umi kemudian diperintahkan melanjutkan perjalanan ke Motaain. Di Motaain ada beberapa eks Tropaz antara lain Rully Lopez dan dua penterjemah Alex dan Fong bergabung dengan Tim Umi. Tim Umi langsung dialihkan untuk menyusup jauh kedalam pedalaman di selatan Viquque.

Untuk menuju pegunungan diselatan Viqueque tersebut mereka harus memutar lewat laut di Motaain menuju Viqueque, dengan mengitari Pulau Timor Barat (NTB) dari Laut Sawu menuju Laut Timor. Merekapun berlayar dengan kapal TNI-AL dan setelah sejam lebih berlayar, tiba-tiba muncul sebuah heli Bolkow yanh disewa dari Pelita Air Services terbang rendah mendekat. Perwira yang duduk di samping pilot heli memberikan isyarat tangan, mengacungkan tiga jari lalu menempelkan ketiga jari dipundak dan menunjuk kepantai. Kini pahamlah Mannix bahwa isyarat tersebut ditujukan kepadanya dam diharuskan merapat ke pantai. Mannix dengan mengendarai sebuah speedboat meluncur ke pantai, dan disana ia mendapat info bahwa penyusupan ke Viqueque dibatalkan dan mereka diarahkan kembali ke Atambua, untuk selanjutnya dialihkan ke perbatasan sektor selatan di Kotabot.

Berhubung eskalasi yang semakin meningkat dan keterbatasan anggota, Tim Umi dibagi masing-masing 50 personil. Komandan Mayor Leo menyusup ke Tilomar sedangkan Tim Umi sisanya dibawah pimpinan Kapten Mannix menyusup lebih jauh lagi sekitar 60km ke Suai, kota diwilayah Timor Portugis. Inilah penetrasi terjauh dalam operasi Flamboyan. Ke 50 personil Tim Umi Kapten Mannix terdiri dari 40 personil Kopassandha, 8 eks Tropaz dan 2 penterjemah termasuk Rully Lopez. Dalam perjalanan menuju Suai, tim ini sudah mendapat banyak hambatan. Selain mereka harus menghindari pertemuan dengan penduduk, juga bedannya terasa sangat berat, jauh dari gambaran semual yang diberikan para eks Tropaz dalam Tim Umi Mannix.
Kisah penyusupan Tim kecil ini ke Suai tidak ubahnya seperti adegan film-film perang Hollywood, seru, menegangkan dan spektakuler.

Hit Run & Escape

Saat menjelang tengah malam ketika sudah mendekati Suai mereka tiba disuatu titik pencar yang nantinya saat pelolosan kembali akan menjadi Titik Kumpul 1. Ditempat ini, Mannix membagi dua pasukannya karena adanya dua sasaran yang akan diserang, yakini sebuah Markas Polisi Militer dan Markas Tropaz. Sebelum berpencar, Mannix mewanti-wanti bahwa tidak boleh ada tembakan sebelum dia memberi isyarat, dan jam D adalah 24.00 tepat tengah malam. Sebagian pasukan dibawah pimpinan Lettu Pauline bergerak menuju sasaran markas CPM melewati medan yang relatif landai dan pada titik tertentu ada jalanan setapak. Sedangkan separuh lagi dibawah Kapten Mannix bergerak menuju markas Tropaz yang medannya berat, melalui cekungan lembah dan rimba yang banyak sekali durinya. 

Sebelumnya, Rully Lopez menggambarkan sasaran markas Tropaz akan dapat dicapai dalam tempo sekitar 15 menit, ternyata karena medan yang berat baru dapat dicapai dalam 1 jam. Sehingga, jam D diundur menjadi 01.00. Sementara pasukan yang dipimpin Lettu Pauline sudah lebih dulu mencapai sasarannya dan menunggu isyarat dari Mannix. Praktek begini wajar, karena apabila tim Lettu Pauline membuka tembakan sedangkan tim Mannix belum juga mencapai sasarannya atau masih berada di lembah terjal tentu bisa membahayakan pasukan kawan apalagi dalam jauh wilayah musuh.

Ketika tim Kapten Mannix sudah mencapai titik serangan, isyarat pun dilepaskan. Dengan sigap dan serempak Tim Umi A dan Tim Umi B melancarkan serangan ke sasaran masing-masing. Tembak menembak berlangsung seru, sekali-kali diselingi ledakan granat dan rocket launcher, pihak yang diserang ternyata memberikan perlawanan sengit. Tembak menembak sudah berlangsung sekitar 20 menit, dan. Kapten Mannix kemudian memberikan isyarat agar mundur sesuai strategi hit and run yang diterapkan. Kedua tim pun bergegas menjauh kembali secepatnya menuju Titik Kumpul 1. Karena faktor medan dan jarak, tim Lettu Pauline tiba terlebih dulu dan berhubung tim Kapten Mannix belum juga muncul, Pauline menggerakkan pasukannya bergeser menuju Titik Kumpul 2, sesuai kordinasi yang sudah digariskan Wadan Tim Umi Kapten Mannix.

Tidak lama berselang tim Mannix tiba di Titik Kumpul 1 yang baru saja ditinggalkan oleh Pauline dan pasukannya. Disini diadakan konsolidasi sejenak, ternyata dua orang anggotanya terluka. Sertu Parman seorang penembak Launcher tertembak di betis, sedangkan pembantunya Serda Sarwono tertembak jari manisnya sehingga hampir copot. Seorang Dan Unit kemudian memapah Parman kearah sebuah pohon sebagai tempat berlindung dan berpedan agar Parman tidak kemana-mana. "Kamu tunggu disini, saya cari teman, nanti kami jemput" pesan Dan Unit kepada Parman. Saat itu, temaram pagi sudah mulai merekah dan menjelang pagi.

Mannix yang masih memeriksa dan konsolidasi anak buahnya kemudian menemukan 4 lagi anak buahnya yang luka tembak. Kemudian Mannix memerintahkan untuk bergerak dan sebelumnya menjemput Parman dan Sarwono yang ditinggalkan di bawah pohon di atas bukit. Ketika dicari, ternyata keduanya sudah bergeser meninggalkan tempatnya, entah kemana. Sementara rentetan tembakan terdengar semakin mendekat, rupanya Tropaz memburu mereka. Pencarian kemudian dihentikan dan mereka ditinggal, selanjutnya Mannix membawa sisa anak buahnya bergerak menuju Titik Kumpul 2, sambil tetap dalam kejaran Tropaz yang memburu dibelakang. 

Dalam upaya menghindari kejaran musuh, Tim Umi B kembali terlibat kontak sengit dengan pemburunya. Rupanya Fretilin dan Tropaz melancarkan perburuan besar-besaran, akibatnya tidak dapat dilaksanakan linked up antara Tim Umi A Kapten Mannix dan Tim Umi B Lettu Pauline. Tim Kapten Mannix yang berada dibelakang menjadi sasaran perburuan Tropaz, sementara tim Lettu Pauline sudah mencapai Titik Kumpul 2. Mereka sudah berada diseberang perbukitan. ( Belakangan kemudian diketahui Sertu Parman yang keadaan terluka tertangkap dan dieksekusi oleh Fretilin, sementara Serda Saarwono yang juga terluka tidak jelas keberadaannya ). Bersambung...


Demikianlah Untold Stories Mudah - mudah bermanfaat buat sahabat sekalian.

Jika Anda menyukai Artikel di Website ini, Silahkan klik disini untuk berlangganan GRATIS via email, dengan begitu Anda akan mendapat kiriman artikel setiap ada artikel yang terbit di Inspirasi Tanpa Henti

Untold Stories - Operasi Flamboyan Timor Timur (Bagian 1)

Anda pernah menonton judul filem Behind Enemy Lines? Mengisahkan bagaimana ketika seseorang berada dan terperangkap dalam wilayah territory musuh, bukan cuma versi Hollywood dalam sejarah penugasan prajurit negara ini, kisah yang sama bahkan lebih real (bukan settingan film) banyak terjadi. Salah satunya yang akan TS angkat dalam thread ini mengenai Behind Enemy Lines nya OPERASI FLAMBOYAN, sebuah operasi combat intelligent terbatas oleh satuan Baret Merah yang mengawali atau bisa juga disebut Pra Operasi Seroja di Timtim. Kisah "flamboyan" dari Tim Susi,Tim Umi dan Tim Tuti didaerah musuh,bagaimana dan apa yang mereka kerjakan belum banyak yang diketahui masyarakat. 

Ilustrasi

Kini setelah lepasnya Timtim dari NKRI, sedikit demi sedikit kisah mereka mulai terungkap ke permukaan, meskipun military sensor masih membalut apa yang nantinya dituangkan dalam thread ini secara keseluruhan. Nukilan thread mengangkat kisah TIM UMI dan Kapten Mannix nya dalam sebuah kisah penyusupan ke Suai yang tak ubahnya seperti adegan film-film Hollywood dengan adegan tegang,spektakuler,amat menegangkan dan tentu sekali seru. Siapakah Kapten Mannix dalam kisah ini? Nanti akan dijelaskan lebih lanjut.(Kerja dulu, update menyusul)


Clandestine ke Wilayah Musuh
Jauh hari sebelum operasi militer terbatas yang dikenal dengan nama Operasi Flamboyan dilancarkan, Kapten Mannix adalah orang pertama yang ditugaskan menyusup kedalam wilayah Timor Portugis. Saat itu, akhir tahun 1974, setelah Mannix yanhg sudah sering mendampingi Kolonel Inf.Dading Kalbuadi ke daerah Timor,Kupang dan Atambua untuk mencari-cari info kembali ditugaskan dan kali ini penetrasi masuk kedalam wilayah musuh. Asintel Hankam Mayjen TNI LB.Moerdani dan Kolonel Inf.Dading Kalbuadi menugaskan/menyusupkan Mannix sebagai perwira intelijen secara gelap kedalam wilayah Timor Portugis.

Kapten Mannix ditugaskan untuk melakukan penyelidikan didaerah perbatasan dan menyusup kedalam wilayah musuh. Mannix dipercaya mengemban misi yang amat strategis,berat dan berbahaya tersebut. Dia disusupkan sendiri dengan menyamar sebagai seorang mahasiswa dan sama sekali tidak boleh menunjukkan identitasnya sebagai seorang personel militer. Jika tertangkap dia tidak ada sangkut pautnya dengan militer Indonesia.Mannix sangat menyadari penugasan tersebut bertaruh nyawa dan siap dengan segala resikonya, termasuk tidak kembali atau missing.

Situasi perbatasan NTT dengan Timor Portugis ketika itu sudah sangat memanas. Banyak warga sana sudah mengungsi ke wilayah Indonesia. Mereka dikejar-kejar aparat Timor Portugis. Sehingga waktu itu masuk laporan sudah ada 5 orang aparat Timor Portugis yang ditangkap aparat keamanan Indonesia karena memasuki wilayah NTT.

Dalam situasi perbatasan seperti itu, Kapten Mannix menyamar sebagai mahasiswa yang sedang melakukan penelitian. Dia hanya boleh melapor kepada Pangdam Udayana, selebihnya kepada komando dibawahnya seperti Korem,Kodim dan Koramil dirahasiakan. Mengawali tugasnya, Mannix melapor kepada Pangdam Udayana bahwa ia mendapat tugas khusus dari Ketua G1/Intelijen Hankam Mayjen TNI LB.Moerdani. Pada waktu, wilayah perbatasan sudah banyak personil militer TNI berjaga-jaga. Sehingga penyamaran sudah dilakukan meski masih dalam wilayah RI. Pergerakan Mannix tidak hanya dilarang terendus oleh aparat keamanan Timor Portugis namun juga oleh aparat Indonesia.

Setibanya di Atambua, Mannix yang menyaru jadi mahasiswa ini menyewa seekor kuda dan seorang penterjemah penduduk tempatan. Kuda disewa untuk mengangkut beban ke perbatasan. Mannix tahu, di Atambua itu sudah bercokol perwakilan Bakin pimpinan Mayor Inf.Tony Sumardjo (AMN 64), personil Kopassandha yang BKO ke Bakin dan juga sedang menyamar disitu. Mannix dan penterjemahnya itu menyusup masuk, medan sangat berat, jarak antara satu kampung dan kampung lainnya sangat jauh. Bahkan disetiap kampung pun, jarak antara rumah pun berjauhan. Suatu saat hujan turun deras mengguyur seharian sehingga Mannix dan penterjemahnya basah kuyup. Ketika akhirnya tiba di sebuah kampung diperbatasan dia beristirahat dan memanaskan badan diperapian disebuah rumah. 

Kemudian datang seorang penduduk dari atas bukit ngomong pakai bahasa Tetun, memberitahukan bahwa diatas ada dan Komandan Koramil. Danramil itu meminta "mahasiswa" yang tengah memanaskan badan diperapian untuk segera naik keatas. Danramil mau ketemu, mau tanya-tanya, siapa dan apa keperluan si 'mahasiswa' datang ketempat itu. Mannix menjawab, " oh iya, nanti saya akan kesana". Mannix dan penterjemahnya pun segera berkemas, layaknya memang ingin naik menghadap. Bersama penterjemahnya, dia menaiki kudanya dan beringsut seolah-olah ingin memenuhi panggilan Danramil, tapi setelah beberapa meter, arah kuda langsung dibelokkan dan kabur melarikan diri. Mannix menghindari pertemuan tersebut. Dia tidak mau ketahuan baik oleh kawan apalagi lawan.( Danramil tersebut kemudian terindetifikasi adalah Lettu Inf.Kiki Syaknakri/Akabri 1971).

Tiba disebuah perbukitan didaerah perbatasan, Mannix mengambil teropong kecil mengamati wilayah perbatasan. Disitu kelihatan sudah banyak sekali pos-pos penjagaan. Dia kemudian mencari celah diantara pos-pos tersebut. Celah akhirnya ditemukan dan masuk kedalam wilayah Timor Portugis. Celah tersebut merupakan sebuah medan yang sulit dan terjal, yang kemungkinan tidak diperkirakan oleh pos penjagaan Timor Portugis bisa dilalui. ( Dikemudian hari, celah ini menjadi jalur penetrasi Operasi Flamboyan dan jaur escape seorang Sersan anggota Tim Umi yang tercicir dibelakang setelah diburu oleh aparat Timor Portugis ). 

Ketika berpindah kewilayah perbatasan lainnya, Mannix didatangi oleh seorang Dukun yang terkenal sakti dikawasan itu. Orang itu bisa membuat siapa saja menjadi kebal bacokan, parang,panah,tombak dan senjata tajam lainnya. Mannix tertarik, dia merasa membutuhkan 'ilmu kebal' tersebut. Dukun itu pun kemudian tanpa diminta mendemonstrasikan kehebatan ilmunya. Lima orang anak buahnya disuruh tidur di bale-bale, dan kemudian satu persatu perut mereka ditebas dengan parang dan ditusuk tombak. Aneh bin ajaib, bukannya luka tapi melenting kayak karet saja.

Wah Mannix tertarik dan merasa memerlukan kekebalan itu. Kemudian dia bertanya, "Apa syaratnya?" Melalui penterjemah, Si Dukun kemudian menyebut bahwa hanya dengan minum air yang ia datangkan secara ajaib. 2 botol kosong bekas penisilin kemudian diambil dan ditutup rapat2. Kemudian si Dukun semedi dan botol-botol kosong tadi diletakkan diatas jendela tempat Mannix tidur. Ajaib lagi, kedua botol kosong itu langsung terisi penuh air yang entah dari mana datangnya. Kata dukun itu, jika air tersebut di minum, Mannix akan kebal seperti yang diperagakan tadi.

Namun Mannix masih penasaran, kemudian ia bertanya, apakah bisa juga kebal oleh peluru? Dukun dan ke lima anak buahnya menjadi celingak celinguk dan kemudian melalui penterjemah mereka mengatakan bahwa belum pernah dicoba kalau oleh peluru. Lalu Mannix bertanya, "Apa tidak ada diantara kalian yang berani mencoba?" Ternyata tidak ada yang berani, termasuk si Dukun tadi. Mannix mulai ragu, dia merasa tidak membutuhkan tahan ditebas parang, ditikam atau ditombak, yang dibutuhkannya adalah kebal peluru, kebal timah panas.

Namun dia terima juga kedua botol berisi air tadi. Dia pun berpikir mau dikemanakan air itu? Ketika dia melihat seekor anjing kampung melintas, ide gilanya langsung muncul. Anjing itu digiringnya masuk kedalam hutan, dipancing dengan makanan. Tiba dalam hutan, segenggam nasi dan ikan dicampur dengan 'air ajaib' tadi. Satu botol habis dicampurkannya ke nasi makanan anjing dan satu lagi dikalungkan dileher si anjing dan binatang itupun makan dengan lahapnya. Kemudian Mannix beringsut mundur sekitar 3 meter ke belakang dan dengan pistol kecil kaliber 22 dibidiknya anjing itu. Dorrr! Ekor anjing itu putus kena timah panas, si anjing kaing kaing kesakitan melarikan diri. Beruntung Mannix tidak mudah begitu saja percaya ilmu kebal si dukun tadi.

Mannix pun melanjutkan pengintaiannya. Diapun sudah memetakan area mana saja yang dijaga ketat dan berbahaya. Meski begitu, dia juga sudah menemukan dua titik yang bisa menjadi pintu masuk dan keluar wilayah musuh. Setelah dirasa cukup, Mannix kembali ke Atambua dan melapor. Laporan harus secara fisik karena Mannix tidak membawa radio, tentu saja radio komunikasi sangat diperlukan, namun dalam penyamaran seperti ini, membawa radio komunikasi sangat mudah dikenal dan di identifikasi oleh musuh. 

Dari Atambua, Mannix melapor ke Jakarta, atasannya Kolonel Dading dan Pak Benny lega dan menyamangatinya. Kemudian, dari Tony Sumardjo Mannix mendapat info bahwa pada hari-hari tertentu,pasar di Batugede, sebuah kota terdekat dengan perbatasan, warga NTT bisa masuk jual beli disana dengan hanya membawa surat keterangan. Demikian pula sebaliknya, pada hari pasar di Motaain NTT, orang Timor Portugis bisa masuk berbelanja hanya juga dengan membawa surat keterangan, semacam pas lintas begitu. Info ini menginspirasi Mannix untuk menyusup ke Batugede, walau sebenarnya tugasnya hanya di perbatasan. 

Atas inisiatif sendiri meskipun tidak diijinkan, Mannix memberitahu Mayor Tony Sumardjo akan idenya. Mannix pun kemudian masuk ke Batugede dengan menyamar sebagai kuli panggul Cina yang membawa truk barang dagangannya kesana. Saat itu, Leo selaku komandan Tim Susi yang sudah persiapkan ke Timor Portugis sedang melakukan peninjauan ke Atambua, dan langsung menyatakan ikut bersama Mannix. Mereka pun menyamar. Layaknya kuli panggul beneran mereka mengangkuti barang dagangan bos keturunan tersebut. Sambil mengangkuti barang,Mannix mengamati semua keadaan terutama yang menyangkut tentara, polisi dan peralatannya. Para pedagang dari Indonesia menjual bermacam barang kesana dan sebaliknya berbelanja juga seperti rokok,sabun dan minuman Portugis. Disana banyak barang-barang Portugis, para pembeli termasuk dari Indonesia terkadang membeli barang-barang dari tentara Timor Portugis itu dan kemudian dijual lagi di Motaain dan Atambua.

Tengah asyik mengamati dan menyamar sebagai kuli mengangkuti barang si Tauke Cina, tak disangka-sangka mendarat sebuah heli dari Dilli di Batugede. Mannix berusaha secepatnya mencari informasi, siapakah yang datang naik heli itu. Dari seorang tua disana, dia diberitahu bahwa yang datang naik heli tadi seorang petinggi Polisi Militer Timles dari Dilli. Polisi Militer tersebut datang untuk memeriksa para pendatang jangan-jangan ada tentara Indonesia yang menyusup. Terlihat ada 2 orang berkeliaran, seorang perwira dan seorang bintara dengan pakaian preman. Gawat, Mannix membayangkan jika seandainya nanti ketahuan, penyamarannya terbongkar dan ketangkep. "Uh matilah aku disiksa dalam penjara"katanya dalam hati.

Kedua PM Timles tadi berjalan kesana kemari mengamati setiap orang dan menanyakan identitas orang yang dicurigai. Beruntung Mannix luput dari kecurigaan mereka. Mungkin karena memang posturnya yang kecil dan tak pantas dicurigai sebagai tentara. Apalagi saat itu Mannix memelihara gondrong nya, jadi tampangnya terlihat benar-benar seorang kuli ditambah keadannya yang dekil. Hingga sore dan pulang, Mannix tetap aman.

Mannix pun mengetahui banyak hal dari penyusupan tersebut. Diantaranya, didepan pantai ada benteng Portugis yang kuat. Dia juga tahu bagaimana posisi senjatanya, seperti apa tentaranya dan sebagainya. Dia juga tahu jalur mana sebagai pintu masuk dan keluar Batugade jika nanti operasi dilancarkan.

Sementara itu, Satuan Tugas Khusus terdiri dari 100an personel Sandiyudha dibawah pimpinan Mayor Leo sudah ready diperbatasan. Kapten Mannix kemudian menjabat sebagai Kasi Intelijen dalan satuan tugas ini. Bersambung....


Demikianlah Untold Stories Mudah - mudah bermanfaat buat sahabat sekalian.

Jika Anda menyukai Artikel di Website ini, Silahkan klik disini untuk berlangganan GRATIS via email, dengan begitu Anda akan mendapat kiriman artikel setiap ada artikel yang terbit di Inspirasi Tanpa Henti

 

© 2013 Inspirasi Tanpa Henti. All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top